2 (dua) Balita di Cuekin Oknum Petugas IGD Ahmad Yani Kota Metro

3212
2 (dua) Balita di Cuekin Oknum Petugas IGD Ahmad Yani Kota Metro
Gedung RSUD Ahmad Yani Kota Metro. Foto : www.rsuayanimetro.com.

Sebatin.com, Kota Metro – “Hanya Mampu Berbenah Secara Fisik”. Mungkin kalimat itu yang saat ini melekat di hati masyarakat Kota Metro terhadap kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani Kota Metro yang sebenarnya telah berhasil menyandang predikat Tipe A. Bukan tanpa alasan, pasalnya hingga saat ini masih banyak ditemukan keluhan, baik itu dari calon pasien, pasien, maupun keluarga pasien, yang merasa tidak puas terhadap pelayanan yang ada di rumah sakit tersebut.

Contohnya, terhadap apa yang dialami oleh Medi Tawali, salah satu warga Kota Metro, ayah dari Farel Hidayatullah, balita berumur 30 hari, yang menurutnya tidak mendapatkan respon pelayanan berupa pertolongan pertama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Ahmad Yani beberapa hari yang lalu.

“Awal mulanya anak saya mengalami sesak nafas setelah menerima asupan ASI dari bundanya, saya panik lalu membawanya ke rumah sakit, sesampainya di IGD Ahmad Yani, saya panik sekali, soalnya kondisi Farel semakin memburuk, badannya sudah membiru. Yang bikin emosi, dengan kondisi seperti itu anak saya terkesan di biarkan, tidak diperiksa sama sekali oleh dokter jaga, bahkan saya dianjurkan oleh salah satu perawat untuk membawanya ke rumah sakit lain, dengan alasan ketidaktersediaan inkubator dan kamar kosong,” jelas Medi saat ditemui Sebatin.com, Sabtu (19/03/2017).

Kekecewaan serupa juga dialami oleh Gunawan, warga Yosodadi, Metro Timur, yang saat itu hendak memeriksakan anaknya Rifda (2 tahun) yang mengalami gangguan pernafasan akibat adanya sebuah benda asing yang secara tiba-tiba bersarang di salah satu lubang hidungnya.

“Ya malam Minggu, sekitar jam 19.30 saya bawa anak saya ke IGD RSUD Ahmad Yani. Setelah mendaftar terlebih dahulu sebagai pasien Kartu Indonesia Sehat (KIS), baru saya dan anak saya masuk ke IGD, dan aduh… gini ni mas bro, saya peragakan ya! Pokoknya pas saya masuk itu yang tugas di IGD lagi pada duduk ngumpul ntah mbahas apa, tanpa beranjak dari tempat duduknya salah seorang bertanya dengan ramah, ada apa mas? Terus saya jelaskan (singkatnya bla.., bla.., bla..), eh dia jawabnya gini, waduh nggak ada alatnya mas, bisa juga ke bagian Poliklinik tapi ya bukanya besok Senin, atau ke dokter spesialis THT aja mas, Harjiman (kalo nggak salah), kayaknya masih buka, gitu mas. Nggak kepikiran saya mas mau emosi, marah-marah, langsung aja saya bawa ke Mardi Waluyo karena dokter Harjimannya ternyata lagi melaksanakan Umroh,” terang Gunawan di kantor Sebatin.com, Minggu (20/03/2017).

Sungguh miris memang, atas apa yang dialami oleh dua orang balita, calon pasien RSUD Ahmad Yani tersebut. IGD, seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan darurat terhadap siapapun yang membutuhkan, ternyata belum untuk RSUD Ahmad Yani Kota Metro. Lalu, apakah predikat Tipe A yang menghiasi rumah sakit tersebut sebenarnya sudah layak untuk mereka dapatkan. Jika sudah layak, apakah harus rusak? Hanya karena ulah oknum-oknum pegawai yang kurang memiliki kepekaan sosial dan empati terhadap siapapun calon pasien yang membutuhkan pertolongan mereka.

(Arby Pratama / Ade Embun)

Tinggalkan Komentar Anda