4 Hari Terbaring Di Rumah Sakit, Seorang Ibu Bingung Kumpulkan 5,2 Juta Rupiah

1277
4 Hari Terbaring Di Rumah Sakit, Seorang Ibu Bingung Kumpulkan 5,2 Juta Rupiah 01
Mijiati ibu dari Tria Sundari warga Jalan Kepiting Rt. 5 Rw. 12, Kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur Kota Metro, bingung cara mengumpulkan uang sebesar 5,2 juta rupiah guna menebus anaknya di RSI Kota Metro. Foto : Ade Embun

Sebatin.com, Kota Metro – Sudah jatuh tertimpa tangga, inilah yang sedang dialami oleh Mujiati (55) seorang ibu rumah tangga warga Jalan Kepiting Rt. 5 Rw. 12, Kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur Kota Metro, yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Hal tersebut berkaitan dengan beban biaya yang harus di tanggungnya, saat akan menyelesaikan pembayaran administrasi perawatan anaknya Tria Sundari (19) di Rumah Sakit Islam (RSI) Kota Metro, karena sakit Demam Berdarah Dengue (DBD), pada hari sabtu (29/10/2016).

Mujiati sontak kaget ketika mendengar ucapan dari sorang kasir mengenai jumlah biaya yang harus di bayarkannya kepada pihak rumah sakit, yaitu 5,2 juta rupiah untuk 4 hari perawatan.

Karena bingung dan panik serta tidak percaya, Mujiati langsung berkeluh kesah dan menceritakan tentang biaya anaknya di RSI kepada majikan tempatnya bekerja selama ini sebagai buruh cuci baju.

Dengan ditemani majikannya, Mujiati kembali menuju kasir RSI untuk menanyakan lebih detail tentang rincian biayanya serta melihat secara langsung mengenai rekam medisnya pengobatan anaknya. Namun ternyata hal itu pun tak mendapat memuaskan mereka, karena rincian perawatan dan rekam medis hanya bisa diberikan jika pihak keluarga atau yang menanggungnya sudah menyelesaikan administrasi.

“Kami tanya ke bagian administrasi apa rinciannya dan minta rekam medisnya, kok bayarnya mahal amat, dijawab kasir, itu untuk biaya obat-obatan, kalau mau lebih rinci bayar dulu, begitu kata petugas itu,” ujar majikan Mujiati, Senin (31/10/2016).

Setelah lama beradu argumen akhirnya pihak Rumah sakit mau menunjukkan rincian biaya yang harus dibayar, untuk obat-obatan total biaya mencapai 3,6 juta rupiah.

“Kami sempat protes ke pihak RSI, kenapa kami tidak ditanya dulu saat masuk ruang UGD ingin menggunakan obat jenis apa, tahu-tahu sudah dikasih obat yang mahal, padahal kami ini miskin, untuk membayar masuk BPJS aja kami nggak sanggup, kami terpaksa pakai umum, dan itupun kami minta kelas 3, karena penuh terpaksa kami ke kelas 2,” ucap Mujiati.

Ditambahkan Mujiati di tempat kerjanya, karena bayar mahal, akhirnya minta keringanan pada pihak rumah sakit, kalau-kalau dibantu, tetapi tidak diberi dengan berbagai alasan. Dengan menangis dan terpaksa akhirnya Mujiati membayar biaya perawatan anaknya sebesar 5,2 juta, dengan cara meminjam uang kepada saudara dan para tetangganya supaya anaknya bisa keluar dari RSI Metro.

“Uang yang untuk membayar biaya perawatan saya pinjam kumpulan dari saudara dan tetangga, maunya kemarin pihak RS sebelum ngasih obat ke anak saya, tanya dulu pakai obat yang mana, jangan langsung kasih obat mahal, jadi seperti dipaksakan, dan sampai anak saya pulangpun, kami tidak diberi rekam medisnya, hanya diberi catatan obat dibelakang kwitansi” ucap Mujiati terbata-bata menahan tangis.

Ditambahkan Mujiati, karena kurang percaya dengan harga obat tersebut dimana untuk obat saja sampai membayar 3.6 juta, ditemani majikannya diapun menanyakan harga obat-obatan yang tertera di kwitansi pada salah satu apotik yang ada di Kota Metro, sebagai perbandingan, tentang benar tidak harganya semahal itu.

“Menurut petugas disalah satu apotik, obat yang tertera di rincian kwintasi harganya relative, hanya saja banyaknya jumlah yang membuat jadi mahal, karena menurut petugas apotik, rincian obat yang diberikan itu bisa untuk lebih dari 1 pasien, dan petugas tersebut juga kaget, kok nebus obat mahal segitu banyak tanpa tanya dulu dengan pasiennya,” ujar majikan Mujiati.

Atas kejadian tersebut, Mujiati merasa keberatan dan terdholimi, dan dengan terpaksa harus melunasi biaya RSI tersebut walaupun dengan meminjam. Dirinya berharap dan memohon kepada pihak terkait untuk dapat memeriksa dan meninjau adminitrasi RSI Metro atas pelayanannya terhadap pasien, dengan tujuan agar tidak ada lagi pasien miskin dan pasien lain yang mengalami kejadian seperti dirinya.

Saat sebatin.com mencoba mengkonfirmasi langsung kepada pihak RSI Kota Metro terkait informasi tersebut, Direktur RSI Kota Metro Amelius Ramli, mengatakan “Saat ini saya enggan berkomentar tentang masalah tersebut, karena sudah waktunya jam pulang, besok saja,” terangnya. (Ade Embun)

Tinggalkan Komentar Anda