AJI dan PFI Kecam Perampasan Kamera Oleh Staf SMK Jayanegara Lawang

352
AJI dan PFI Kecam Perampasan Kamera Oleh Staf SMK Jayanegara Lawang
(Ilustrasi)

Sebatin.com, Malang – Dua organisasi profesi di Malang, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang mengecam aksi penghalang-halangan liputan dan perampasan kamera oleh staf SMK Jayanegara, Lawang, Malang, Rabu (1/3/2017).

Lembaga sekolah merupakan lembaga publik yang di dalamnya terdapat pelajar yang belajar. Peristiwa longsor ini menimpa sekolah tersebut dan diduga bisa mengganggu aktivitas belajar di sekolah itu.

Kerja jurnalis dilindungi oleh undang-undang dan ini diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Pers, di mana setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp. 500 juta.

Korban bisa melaporkan peristiwa ini melalui perusahaan tempat dia bekerja dan/atau organisasi profesi tempat dia bernaung ke Dewan Pers bila mengalami intimidasi atau perampasan alat kerja jurnalis. Dalam pedoman penanganan kekerasan terhadap jurnalis yang dikeluarkan Dewan Pers, perusahaan pers mempunyai peran penting untuk mengawal jurnalisnya yang menjadi korban.

Dari kronologi yang dihimpun Ketua PFI Malang kepada korban, peristiwa perampasan kamera terjadi saat jurnalis foto Radar Kanjuruhan, Falahi Mubarok yang juga anggota PFI Malang ini bermaksud meliput kejadian longsor yang mengakibatkan tembok pagar SMK Jayanegara ambruk pada Selasa (28/2/2017). Sekolah ini berada di Dusun Sumberwaras, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Falahi Mubarok, wartawan yang datang ke lokasi pada Rabu (1/3/2017) dihalangi ketika akan meliput di lokasi tersebut. Sempat terjadi ketegangan dengan pihak sekolah karena video yang diambil oleh Falahi Mubarok dihapus paksa setelah satpam sekolah merampas ponselnya.

Sebelum masuk ke lokasi, sebenarnya Falagi Mubarok sudah izin dan mengisi daftar tamu untuk masuk. Kemudian dipersilahkan oleh satpam. Namun, setelah masuk dan wawancara dengan pekerja yang bersih-bersih muncul Humas Sekolah yang langsung meneriaki Falahi Mubarok.

Humas menanyakan korban dari mana dan setelah korban menjawab maksud dan tujuannya untuk meliput, disertai menunjukkan id card persnya.

Humas kemudian berkata, “Tidak boleh, Mas. Tidak usah diliput.”

Barok lalu meminta bertemu kepada Kepala Sekolah dan dijawab Humas kalau Kepala Sekolah tidak ada. Barok juga menanyakan kenapa tidak boleh diliput kejadian longsor di sekolahnya.

Humas menjawab,”Pokoknya tidak boleh, kami punya hak di sini,” kata humas yang menolak menyebutkan identitasnya ketika ditanya.

Humas tersebut lalu menyuruh satpam mengeluarkan Barok dari lingkungan sekolah. Sempat terjadi ketegangan dan Barok juga merekam kejadian ini dengan kamera ponselnya. Kemudian empat orang mendekati dan salah satunya mengambil ponsel secara paksa serta menghapus video yang diambil anggota PFI ini.

Setelah dihapus, Barok meminta HP nya kembali dan sambil keluar sekolah ia merekam kembali.

Tak berselang lama, beberapa jurnalis lainnya datang ke lokasi untuk meliput kejadian longsor.

Satpam yang bernama Yulianyo langsung menutup gerbang sekolah dan berucap,”Gak boleh. Gak boleh”.

Atas peristiwa ini, AJI Malang dan PFI Malang mengecam dan berharap perusahaan media melaporkan peristiwa ini ke Dewan Pers dan Kepolisian karena pelaku penghalang-halangan kerja-kerja jurnalistik, melanggar undang-undang dan bisa diancam pidana.

Selain itu, AJI Malang dan PFI Malang meminta semua jurnalis untuk bekerja secara profesional dan patuh terhadap kode etik jurnalistik. Kemudian AJI Malang dan PFI Malang juga mengimbau kepada semua masyarakat agar menghormati jurnalis yang bekerja secara profesional dan tidak menghalanginya ketika meliput untuk kepentingan publik. (Rls/Red/Arby)

Tinggalkan Komentar Anda