Asisten II Pemkot Metro: Jalur Oneway Masih Dalam Tahap Sosialisasi

351
Asisten II Pemkot Metro : Jalur Oneway Masih Dalam Tahap Sosialisasi
Asisten II Pemerintahan Kota Metro, Khaidarmansyah Saat Menjelaskan Sosialiasi Jalur Oneway. Foto: Ndra - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro masih menunggu laporan forum lalulintas terkait percobaan oneway (satu arah) di Jalan Ahmad Yani. Hal ini dikatakan Asisten II Pemkot Metro Khaidarmansyah Senin (21/11/2016).

Ia menjelaskan, saat ini masih mensosialisasi sistem oneway Jalan Ahmad Yani melalui radio dan Satlantas Polres Metro.

“Belum ada tindakan hukum. Karena dua minggu sampai tiga bulan ke depan itu kita masih sosialisasi. Dan belum ada juga hasil laporan uji coba diterapkan sistem oneway ini dari Forum Lalulintas,” terangnya.

Menurutnya, tanda jalur oneway memang telah terpasang di beberapa titik jalan. Ini untuk memberitahukan masyarakat, jika jalur Jalan Ahmad Yani diterapkan sistem satu arah.

“Minggu lalu kita sudah rapat dengan DPRD. Kan mereka menyarankan kita uji coba dulu, tidak langsung diterapkan. Dilihat dulu dampaknya sistem ini, macet tidak atau lancar,” katanya.

Saat ini, pihaknya masih menunggu perkembangan di lapangan dari Forum Lalulintas.

“Kalau memang sistem oneway Ahmad Yani ini lebih banyak mudaratnya untuk masyarakat, ya tidak diterapkan,” imbuhnya.

Rencana penerapan oneway ini menuai polemik bagi pengguna jalan. Para pengguna jalan yang melintasi RSUD dari arah Ki Hajar Dewantara tidak setuju diterapkan oneway.
Salah satunya Nurdiansyah, warga Metro Timur. Menurutnya, Kota Metro tidak mengalami kemacetan. Seperti halnya Jakarta atau Bandar Lampung. Yang terjadi adalah penyempitan jalur (bottleneck).

“Saya dari kecil lahir di sini. Rumah saya paling 400 meter dari sini (RSUD). Ini kan macet kalau ada yang parkir di depan RSUD sama TK Pertiwi itu. Tambah lagi ada odong-odong itu muterin taman. Belum lagi angkot yang ngetem,” tandasnya.

Hal senada juga dikatakan Ari pengendara lainnya. Ia menilai, penerapan oneway tidak adil bagi masyarakat Metro Timur dan Metro Selatan. Pasalnya, warga dari dua kecamatan tersebut yang bakal terkena imbas harus memutar.

“Ini kan rumah sakit. Fungsinya buat emergency. Buat orang sakit. Ambulance saja bisa terabas lampu merah. Ini sama saja nyuruh yang sakit tambah sakit. Karena disuruh mutar dulu. Kan enggak adil. Apalagi kalau alasannya karena parkir liar dan banyak ruko, terlalu itu,” cetusnya.

(Ndra)

 

Tinggalkan Komentar Anda