Berwisata Dengan Novel, Mungkinkah Itu?

210
Berwisata Dengan Novel, Mungkinkah Itu?
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Semakin hari zaman semakin berkembang dan persaingan semakin ketat. Sebab, persaingan sudah bukan lagi secara lokal ataupun nasional, tapi global.

Berwisata atau traveling juga nyaris sudah bisa dikatakan sebagai kebutuhan primer. Faktanya, di saat musim liburan tiba tiket-tiket transportasi baik itu darat, laut, atau udara selalu cepat habis. Tak hanya kawula muda, bahkan orang-orang dewasa pun menganggap traveling adalah suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Novel adalah salah satu bentuk karya sastra yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Di zaman modern ini, novel sudah amat sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Tanpa perlu mengeluarkan uang yang banyak hingga berjuta-juta, dengan hanya sekadar membaca novel yang harganya rata-rata cuma di bawah seratus ribu rupiah, kita sudah bisa menjelajahi dunia. Murah dan simpel.

Bukankah novel ataupun buku adalah cakrawala dunia?

Di setiap novel tentunya memiliki sebuah latar tempat cerita tersebut terjadi. Biasanya, novel-novel yang bahkan ditulis oleh penulis Indonesia pun berlatar tempat luar negeri. Contohnya novel Ayat-Ayat Cinta yang berlatar Mesir, atau Bulan Terbelah di Langit Amerika yang berlatar di Amerika.

Novel-novel best seller seperti dua novel di atas biasanya bagus. Sementara novel-novel bagus biasanya amat sangat detail atau jelas dalam penggambaran latar tempatnya. Pembaca akan dibuat seolah-olah sedang berada di tempat di mana novel tersebut berkisah. Bila novel yang berlatar tempat daerah di dalam negeri, bisa diambil contoh Novel Laskar Pelangi. Di novel ini Andrea Hirata sangat jelas dalam penggambarannya. Sebagai rekomendasi, novelis yang amat sangat andal dalam menggambarkan sebuah tempat adalah Haabiburrahman El Shirazy. Ialah novelis mega best seller Indonesia.

Tak hanya sekadar merasakan seolah-olah kita sedang berada di tempat yang dikisahkan di novel tersebut, kita pun diajak untuk merasakan bagaimana suasana hati tokoh-tokoh yang ada di novel tersebut. Maka dalam satu waktu tersebut, kita bukan hanya berwisata dalam imajinasi, tapi juga kita mendapatkan pelajaran bagaimana para tokoh dalam novel tersebut menghadapi berbagai cobaan yang dihadapinya.

Dengan membaca kita juga sekaligus mengasah otak, daya baca, berpikir kreatif dan kritis, dan bahkan kita juga akan mendapatkan banyak pemahaman dan wawasan baru.

Jadi, alangkah banyak untungnya membaca daripada hanya sekadar berwisata ke tempat-tempat indah yang menuntut kita untuk mengeluarkan banyak uang bukan? Ini bukan berarti kita tak perlu untuk melancong. Namun, hanya saja ini adalah salah satu tips yang bisa kita lakukan untuk berwisata dengan modal yang murah. Walau hanya sekadar dalam imajinasi tapi itu tidak masalah bukan? (Al Hadeed)

Tinggalkan Komentar Anda