Cegah Pelarian ISIS Masuk Indonesia, TNI Perketat Pengawasan Udara dan Laut

229
Cegah Pelarian ISIS Masuk Indonesia, TNI Perketat Pengawasan Udara dan Laut
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat menjawab pertanyaan awak media usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 1 DPR RI di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Sebatin.com, Jakarta – Guna mencegah dan menutup akses masuknya pelarian ISIS dari Marawi, Filipina Selatan ke Indonesia, akibat desakan pasukan Armed Forces of the Philippines (AFP). Tentara Nasional Indonesia (TNI) rutin melaksanakan patroli udara dan laut. Perihal tersebut dibenarkan oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat menjawab pertanyaan awak media usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 1 DPR RI di Gedung Nusantara II DPR RI, Jakarta, Kamis (15/6/2017).

“TNI serius dalam menyikapi perkembangan situasi di Marawi dan mengantisipasi kemungkinan masuknya teroris ISIS ke wilayah Indonesia. Awalnya AFP memperkirakan kekuatan teroris ISIS 50-100 orang, ternyata lebih dari 600 orang, buktinya saja korban dari teroris sudah sekitar 134 orang”, tutur Panglima TNI.

Lanjutnya, dari 16 tempat di wilayah Indonesia, terdeteksi sel-sel ISIS, dan harus segera diambil langkah komprehensif bersama seluruh komponen bangsa untuk mencegah pergerakan ISIS ke Indonesia.

“Di Indonesia ada sekitar 16 tempat yang terdeteksi terjangkit ISIS, mereka sudah ada dan membaur bersama kita, tidak bisa dibedakan, jika tidak segera ditutup pelarian ISIS ke Indonesia maka sangat berbahaya. Kita (TNI) ingin bertindak pakai Undang-Undang apa ? Karena Undang-Undang Terorisme yang baru belum ada”, jelas Panglima TNI.

Panglima TNI juga menyatakan bahwa, sesuai instruksi Presiden RI Joko Widodo, TNI telah mengambil langkah-langkah kongkrit untuk mengantisipasi ancaman teroris ISIS.

“TNI sudah melakukan kegiatan-kegiatan mulai dari pulau-pulau yang paling dekat, pelarian ke Tarakan, Bitung lewat Marore, Miangas, Tahuna, Sangir Talaud dan Maluku Utara, semua kita tutup serta di tiap-tiap pulau tersebut diadakan penebalan (penambahan kekuatan pasukan TNI)”, jelasnya.

Tutupnya, Panglima TNI mengungkapkan bahwa sel-sel teroris yang selama ini tidur merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai seluruh komponen masyarakat.

(Rls : Puspen TNI)

Tinggalkan Komentar Anda