Cerpen: Kesaksian Tukang Siomay

264
Cerpen: Kesaksian Tukang Siomay
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Aku melihatnya.

Sepasang muda-mudi berlari ke arahku dengan senyum yang menghambur ke mana-mana. Hujan telah turun. Aku tahu, sejak tadi memang mendung. Aku sengaja istirahat di bawah pohon besar nan rimbun ini, sekadar untuk sedikit melemaskan otot-otot kaki, tangan, dan leherku. Bila sekadar untuk berteduh agar tidak basah kuyup karena hujan, maka pohon ini bisa diandalkan. Meski tentu saja sedikit-banyaknya juga akan terkena tetesan air hujan.

“Bang, siomay dua!” ucap seorang pemuda yang berlari ke arahku dengan seorang gadis tadi, setelah beberapa saat duduk di bangku yang berada tepat di bawah pohon. Sepertinya mereka tadi sedang memancing, terlihat dua stik pancing masih tergeletak di muka kolam itu.

Aku segera bangkit dari jongkokku dan melepaskan rokok murahanku untuk sesaat. Dengan cekatan aku langsung membuatkan pesanannya. Ia menerima siomay buatanku itu, membayarnya, dan langsung kembali ke tempat temannya itu duduk.

Aku meraih rokokku kembali yang tadi aku letakkan di pojok gerobakku. Hari sudah sore dan aku terjebak di bawah pohon ini karena hujan. Aku memperkirakan, sepertinya sudah jam lima sore. Aku menghela nafas pendek, sekaligus menghembuskan asap dari rokokku.

“Dhil …” aku mendengarnya, gadis yang bersama pemuda tadi seperti memanggil namanya.

Pemuda itu bernyanyi dengan gaya yang sok asik, setelah terjadi sedikit perbincangan di antara mereka. Ah, jelas aku tahu, mereka itu pacaran, dan si lelaki sedang menghibur perempuannya. Dari tempatku jongkok, yaitu di sebelah gerobakku, aku pura-pura tak melihat mereka. Namun, suara mereka jelas sekali terdengar. Mungkin jarak kami hanya berkisar dua meter lebih sedikit.

Aku sedikit risih melihat dan mendengar pemuda itu bernyanyi. Sungguh, membosankan sekali. Ya, tentu saja itu menurutku. Terserah apa pendapat pacarnya itu, aku tak peduli.

Aku tertegun.

Seketika gadis yang ada di hadapannya itu menitikkan airmata.

“Kamu kenapa?” airmuka pemuda itu langsung berubah. Tersirat rasa cemas di wajahnya, aku bisa melihat itu dengan jelas. Sang Pemuda mengusap airmata gadis itu dengan ibu jarinya. Dalam lima kepakan sayap nyamuk, gadis itu langsung memeluk si pemuda. Ia menangis di bahunya. Aku masih bisa melihat wajah pemuda itu, ia seperti bingung. Namun akhirnya ia pun memeluk gadis itu. Mungkin untuk memberikan kenyamanan atau entah apa namanya, agar gadis itu sedikit lega.

“Aku akan pindah, Dhil. Papaku ditugaskan bekerja di Amerika …”

Jelas sekali, wajah pemuda itu seperti tertegun. Pemuda itu seperti tak kuasa setelah mendengar pernyataan pacarnya itu. Ah, sebagai seorang lelaki, aku tahu betul kalau ia kecewa mendengar keputusan pindah itu. Lelaki mana yang tidak kecewa bila kekasihnya pergi meninggalkannya? Lelaki mana yang bisa ikhlas ditinggalkan separuh jiwanya? Kecuali satu, penyebabnya adalah maut. Lelaki manapun harus ikhlas berlapang dada. Namun, perempuan itu akan pergi bukan karena kematian. Karena pindah ke luar negeri. Aku jelas mengerti, apa yang bisa dilakukan seorang pemuda yang masih SMA untuk mencegah kepindahan sebuah keluarga ke luar negeri?

“Lalu kenapa kamu menangis? Justru enak, dong! Amerika itu kan keren …” kata pemuda itu dengan senyum getir. Ah, aku mengerti sekali apa yang dirasakan pemuda itu.

“Aku nggak mau jauh dari kamu, Dhil! Kamu ngerti gak, sih?!”

Aku melihatnya.

Pemuda itu tiba-tiba tersenyum manis, lalu meraih tangan pacarnya itu. Entah mengapa, wajahnya seperti mengeras, terlihat serius.

“Aku mengerti, Rum, aku mengerti. Kau tak perlu khawatir. Aku berjanji, lima tahun lagi, aku akan menyusulmu ke sana!”

Ah, gadis itu! Alangkah genitnya. Apa aku hanya dianggapnya patung? Ia dengan seenaknya saja berlabuh ke dada pemuda itu.

“Aku pegang janjimu, Dhil. Kau tak boleh mengingkarinya!”

Dalam hati aku tak henti-hentinya mencibir: cinta monyet! Cinta monyet! Monyet! Aku berani bertaruh, paling lama juga lima bulan. Setelah itu mereka akan saling melupakan dan mencari pacar baru.

Pemuda itu melepaskan kalung dari lehernya, lalu memakaikannya ke leher gadis itu. Cukup jelas aku melihatnya, liontin kalung itu berbentuk mata pancing. Klasik sekali, pemuda, klasik sekali. Batinku. Tapi, untuk sepasang kekasih yang hendak berpisah jauh, aku bisa memahaminya. Setidaknya kalung itu bisa selalu mengingatkan Si Perempuan pada Si Pemuda.

Hujan meninggalkan rintik. Langit tampak redup. Saat ini, udara terasa segar sekali.

Sepasang muda-mudi itu berjalan bergandengan. Dasar ABG! Mungkin mereka hendak pulang. Aku sengaja ingin melintasi mereka, agar mereka menjadi canggung.

“Semoga langgeng, ya!” kataku saat tepat berjajaran dengan mereka.

(Al Hadeed)

Tinggalkan Komentar Anda