Cerpen: Pakde dan Kata Cuma

302
Cerpen: Pakde dan Kata Cuma
(Ilustrasi)

Sebatin.com – “Pakde, Palunya kok nggak ada ya?”

“Oalah, aku lupa, Kar. Kau ke rumahku saja ya, minta pada Si Tomo!”

Karman meninggalkanku.

Gara-gara hujan lebat, kolam semata wayangnya desa kami meluap dan merusak dua jembatan pohon kelapa di atasnya. Lagi pula kedua jembatan itu sudah tua. Mau tidak mau, sesegera mungkin harus dibenahi. Kalau tidak bisa berakibat fatal. Getah-getah karet kami takkan bisa sampai ke tangan tengkulak.

Aku langsung kembali turun, bekerja sama dengan enam bapak-bapak lainnya. Bukan mudah memperbaiki ini, sejak matahari belum bersinar pagi tadi kami sudah mulai bekerja. Menebang pohon, membelahnya jadi dua, dan menancapkannya dengan posisi tidur di atas kolam ini.

Hari sudah cukup terik. Satu jembatan telah selesai. Satu lagi.

“Selamat pagi, Bapak-bapak,”

“Wei, Gun, rapi banget kamu, ganteng! Mau ke mana?”

“Mau ke Jakarta, Pakde, aku bakal dikasih penghargaan sama Pak Menteri Lukman!” jawabnya dengan wajah sumeringah.

“Weleh-weleh, dari dulu kau ini memang selalu jadi kebanggan desa, Gun!”

“Ah, Pakde ini bisa saja. Pakde, Bapak-bapak, maaf sekali ya, aku nggak bisa nolongin. Padahal sebenernya aku pengen banget …,”

“Hei, Gun, nggak apa-apa! Kau pergi saja sana ke Ibukota, banggakan desa kita! Masalah ini, kecil, biar kami yang urus. Iya kan Bapak-bapak?” kata Lek Jasman yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di desa ini.

Aku dan semua bapak-bapak itu manggut-manggut mengiyakan sambil dipenuhi gairah kebahagiaan yang tiada tara.

“Terima kasih, Bapak-bapak semua. Saya pergi dulu, mohon doanya.”

Gunawan melanjutkan perjalanannya. Naik motor. Diantar oleh adiknya, Imam. Semakin hari ia semakin luar biasa. Dari SD sampai SMA dia selalu juara umum. Lalu nyambung kuliah di Jakarta. Kata orang-orang dulu dia dapat bidik misi. Sampai saat ini aku belum mengerti, apa itu bidik misi. Dan minggu kemarin, ia pulang dari Yogya. Katanya sedang dalam proses penelitian untuk tesisnya. Lha, lebih tak mengerti lagi aku.

Setelah beberapa lama kami lanjut bekerja, tiba-tiba Si Bambang datang dari seberang dengan ojek sambil membawa karung besar. Ia kelihatan seperti baru pulang dari kota. Palingan juga dari beli pakan untuk unggas-unggasnya.

“Assalamualaikum, Pakde, Bapak-bapak semuanya …,”

“Waalaikumussalam,”

“Dari mana kau, Mbang? tanyaku berlagak bodoh.

“Dari beli pakan untuk serati-seratinya itulah, Pakde!” kata Darmo, salah satu dari bapak-bapak itu.

“Iya, Pakde, betul itu.” balas Bambang sambil membuka kemejanya dan langsung berlari ke arah kami.

Dengan tangkas dan cekatan Bambang langsung menyatu membantu kami. Aku tak heran. Pemuda yang cuma tamatan SMK macam Bambang ini memang pantas bekerja yang seperti ini. Kerjaan yang seperti ini adalah makanannya selama ini. Tidak bisa disamakan dengan Gunawan yang sesaat lagi akan meraih gelar S.2 itu.

*** Berlanjut ke halaman 2…

Tinggalkan Komentar Anda