Dinas Kesehatan Akui Masih Ada WC Cemplung di Kota Metro

823
Dinas Kesehatan Akui Masih Ada WC Cemplung di Kota Metro 01
Salah satu WC cemplung milik warga RT 01 RW 01 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara, Kota Metro, Kamis (17/11/2016). Foto : Hendra - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Warga di Kota Metro belum sepenuhnya menerapkan gaya hidup bersih dan sehat. Hal ini, terlihat dari masih adanya warga di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Metro Utara yang masih menggunakan jamban cemplung.

Salah satunya, Kasiyem warga RW 01 RT 01 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara. Ia mengaku dirinya tak mampu membuat WC sehat lantaran terkendala biaya. Sebelumnya, Kasiyem mengaku pernah didata oleh Pemerintah Kota (Pemkot) untuk mengikuti program dari Dinas Kesehatan agar mendapat bantuan pembuatan WC dan sumur sehat, namun program tersebut tak kunjung berjalan.

“Saya ngak bisa bikin karena penghasilan cuma cukup buat makan sehari-hari saja. Dulu pernah di data untuk mendapatakan bantuan pembuatan WC yang sehat. Sudah di tunggu sampai sekarang saya tidak dapat,” terangnya, Kamis (17/11/2016).

Hal senada di ungkapkan Kariyah, dirinya mengaku sudah sejak dulu menggunakan WC cemplung dan merasa tak berpengaruh dengan kesehatannya.

“Saya juga kerja cuma sebagai pemulung, penghasilan tidak mungkin cukup untuk membuat WC yang bagus,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Akui Masih Ada WC Cemplung di Kota Metro 02
salah satu WC cemplung yang ada di RT 33 RW 09 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara, Kota Metro, Kamis (17/11/2016). Foto : Hendra – Sebatin.com

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Maryati melalui Kasi Kesehatan Lingkungan Arivanda Jaya mengakui, untuk di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Metro Utara berdasarkan pendataan Puskesmas Karangrejo ada 27 KK yang masih bertahan menggunakan jamban tidak memenuhi syarat kesehatan, Rabu (30/11/2016).

”Alasan masyarakat masih menggunakan jamban tidak sehat karena adanya masalah kesulitan ekonomi sehingga tingkat ketergantungan terhadap bantuan pemerintah masih tinggi,” tuturnya.

Selain faktor ekonomi, kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya jamban sehat dan serta kurangnya tingkat kebutuhan sanitasi yang layak merupakan faktor yang menyebabkan masih adanya jamban tidak sehat di Kota Metro.

”Ini terlihat dari kurangnya usulan masyarakat dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) yang lebih mengutamakan akses jalan dibanding akses sanitasi,” terusnya.

Ia menjelaskan, pada tahun 2015 Dinas Kesehatan Kota Metro melalui Puskesmas sudah melakukan pendataan terhadap jamban yang tidak memenuhi syarat untuk di usulkan melalui bantuan Corporate Social Responsibility (CSR).

”Tetapi sampai saat ini belum ada perusahaan yang memberikan bantuan tersebut,” jelasnya.

Untuk itu, sesuai dengan Permenkes nomor 3 tahun 2014 tentang STBM, Dinkes menerapkan suatu pendekatan terhadap masyarakat untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan.

”Jadi yang dimaksud dengan pemicuan yakni cara untuk mendorong perubahan perilaku higienis dan sanitasi individu atau masyarakat atau kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan, pola pikir, perilaku individu atau masyarakat,” pungkasnya.

(Hendra)

Tinggalkan Komentar Anda