Gubernur Lampung Bekali Pendamping Desa dengan Wawasan Kebangsaan

58
Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo selfie bersama para pendamping desa setelah membekalinya dengan wawasan kebangsaan, dalam Forum Pembinaan Pendamping Profesional Desa Provinsi Lampung 2017 yang dilaksanakan di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Jum'at (8/12). Foto : Istimewa

Sebatin.com, Bandar Lampung – Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo membekali para pendamping desa dengan wawasan kebangsaan, dalam Forum Pembinaan Pendamping Profesional Desa Provinsi Lampung 2017 yang dilaksanakan di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Jum’at (8/12).

Menurut Ridho, sapaan akrabnya, pendamping desa merupakan kunci utama terjaminnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Satuan terkecil dari Republik Indonesia adalah desa, dan untuk menentukan Republik itu maju, maka lihatlah dari desanya,” tegas Gubernur.

Tugas menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, menurut Gubernur yang dididik selama 9 bulan di Lemahanas ini, adalah menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa, termasuk para pendamping desa. Ia menyoroti hal yang terpenting bagi pengembangan desa, yaitu kesejahteraan. Dia berharap para pendamping desa memahami keterkaitan kesejahteraan dengan keutuhan NKRI.

“Apabila kita gagal dalam mensejahterakan rakyat, maka keruntuhan akan ada di depan kita. Namun sebaliknya, jika berhasil, kita bukanlah siapa-siapa, karena itu adalah penilaian kolektif. Oleh karenanya kita tidak boleh egois, namun harus tetap solid dan bekerja keras,” jelas Gubernur.

Baru-baru ini, Provinsi Lampung memperoleh penghargaan Upakarya Wanua Nugraha (UWN) dalam membina dan mendorong pembangunan desa di Lampung. Prestasi itu, lanjutnya,tak lain dan tak bukan karena prestasi yang dihasilkan para pendamping desa.

“Prestasi yang saya punya, sebagian besar adalah hasil kerja keras kalian semua, dan penghargaan itu untuk teman-teman semua,” jelas Ridho.

Saat ini, Lampung masih membutuhkan pendampingan, oleh karena itu, masih banyak yang harus dilakukan. Ketika mereka telah mampu mandiri, tutur Ridho, disitulah titik suksesnya kegiatan kita.

“Pendampingan ini tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, untuk itu dibutuhkan soliditas, kerjasama, disiplin dan yang paling utama adalah daya tahan, ketekunan, keuletan dan keteguhan dalam membawa misi pembangunan,” kata Ridho membakar semangat para pendamping desa.

Gubernur yang jabatannya habis tahun depan ini berharap, dengan banyaknya pembangunan para pendamping desa dapat memberi informasi kepada dirinya dalam membangun Lampung. Untuk itu dibutuhkan sumbangsih saran dan pikiran untuk membangun daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas pemberdayaan masyarakat dan desa Provinsi Lampung, Yuda Setiawan, menjelaskan saat ini pejuang pemberdayaan desa di Provinsi Lampung berjumlah 1200 orang lebih. Tahun 2017 ini sudah ketiga kalinya diselenggarakan program pemberdayaan desa sejak tahun 2015 silam.

Sejak program ini, dimana dana desa sejak 2015 silam mengalami peningkatan, kata Yuda, telah dilaksanakan berbagai program seperti jalan sepanjang 5.453 kilometer, jembatan sebanyak 1.089 unit, gotong-gorong sebanyak 20.672 unit dan talud sepanjang 567.021 meter, serta infrastruktur lainnya sesuai dengan kebutuhan desa setempat. Selain itu, telah membentuk sebanyak 536 bumdes. Ia berharap kedepan saling berlomba dan mendukung dalam memacu prestasi untuk memajukan Lampung.

“Telah banyak program yang dilakukan Gubernur Ridho, dan Lampung sedang giat-giatnya melakukan berbagai pembangunan, hal ini ditunjukkan dengan daya saing Lampung yang meningkat menjadi posisi 11. Hal ini tentunya harus kita dukung dengan karya nyata dalam membangun Lampung,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Konsultan pendamping wilayah II, Mashuri, menyampaikan kegiembiraannya atas terselenggaranya forum pembinaan pendamping profesional desa Provinsi Lampung tahun 2017. Menurutnya, hal ini merupakan forum yang telah lama dinantikan para pendamping desa untuk menjadikan mereka pendamping yang profesional, serta dapat bertatap muka secara langsung dengan Gubernur.

Pendamping desa di Lampung, jelas mashuri, ada sebanyak 1.228 orang, tanpa ada bimbingan yang baik, maka jumlah sebanyak itu akan menjadi beban bagi Lampung. Hal ini, ungkapnya, terlaksananya pendampingan dengan baik tak lepas dari bimbingan Gubernur Lampung dan Dinas PMD.

“Pendampingan yang baik tersebut, ditunjukkan dengan meraih penghargaan UWN dua tahun berturut-turut, serta menjadi penyelenggara bursa inovasi desa pertama di Indonesia,” jelasnya.

Perlu diketahui, dana desa sejak tahun 2015 mengalami banyak peningkatan, yang semula sebanyak Rp. 684,7 miliar atau sekitar Rp. 280 juta/desa, pada tahun 2016, sebanyak Rp. 1,5 triliun atau Rp.643 juta/desa, dan terakhir tahun 2017 sebanyak Rp. 1,8 triliun atau Rp800 juta/desa.

(Red)
Editor : Addarori Ibnu Wardi

Tinggalkan Komentar Anda