Hari Ini: Hari Pahwalan Nasional, Pidato Pembakar Semangat Pejuang

795
Hari Ini: Hari Pahwalan Nasional, Pidato Pembakar Semangat Pejuang
Aksi Treatikal Warga Surabaya Untuk Menggambarkan Suasana Pertempuran Surabaya 1945. Gambar : Antara

 

Sebatin.com – 10 November adalah hari yang sangat bersejarah bagi Negara Indonesia, hari dimana ditetapkan menjadi Hari Pahlawan, selalu menjadi hari pengingat sejarah tentang perjuangan para pejuang-pejuang Indonesia dalam menghadapi para penjajah waktu itu.

Kala itu, 30 November 1945 terjadi baku tembak antara pejuang Indonesia dan penjajah. Akibat baku tembak tersebut, Brigadir Jenderal Mallaby, seorang pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur tewas. Dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, lalu posisi kepemimpinannya digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh.

Mayor Jenderal Robert Mansergh murka terhadap apa yang terjadi dengan Jendral Mallaby, hingga akhirnya ia mengeluarkan ultimatum kepada seluruh pejuang-pejuang Indonesia yang bersenjata untuk melapor dan menyerahkan diri di tempat yang sudah ditentukan. Sedangkan batas ultimatum ini adalah pukul 06.00 WIB pada tanggal 10 November 1945.

Alih-alih takut, ultimatum ini justru dianggap menodai semangat para pejuang bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa negara Indonesia. Sehingga semua pihak menolak dengan ultimatum tersebut, Karena pada saat itu negara Indonesia sudah berdiri dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sudah dibentuk sebagai pasukan pengaman negara.

Akibat penolakan tersebut, Inggris melancarkan agresi militer besar-besaran pada 10 November pagi. Dengan mengerahkan sekitar 30.000 infanteri serta peralatan perang laiinya. Pihak Inggris menganggap bahwa Surabaya dapat ditahlukkan dalam 3 hari. Namun banyak pelopor masyarakat yang menggerakkan semangat perlawanan, salah satunya Bung Tomo.

Bung Tomo berpengaruh besar dalam pertempuran ini, dimana ia dengan pidatonya bisa menggerakkan semangat para pejuang-pejuang untuk melakukan perlawanan.

Berikut beberapa potongan pidato Bung Tomo yang sangat membakar semangat para pejuang

Saudara-saudara.

Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.

Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,

Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,

Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,

Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,

Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.

Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.

Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.

Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Dan untuk kita saudara-saudara.

Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.

Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Pidato yang disiarkan melalui radio ini telah sangat membakar semangat pejuang, hingga para pejuang Indonesia melakukan perlawanan selama kurang lebih 3 Minggu. Walaupun akhirnya seluruh kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris.

Akibat pertempuran ini, sebanyak kurang lebih 6.000-16.000 Pejuang Indonesia yang tewas dan lebih dari 20.000 rakyat sipil mengungsi dari kota Surabaya, sedangkan korban tewas di pihak Inggris mencapai 2000 Tentara.

Untuk mengenang semua jasa para pahlawan Indonesia baik di balik pertempuran Surabaya dan untuk pejuang yang berjuang di seluruh tanah Ibu Pertiwi, mari kita mengheningkan cipta sejenak.

Merdeka atau Mati, Merdeka!!!

(Willi)

Tinggalkan Komentar Anda