Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro Lakukan Pengukuran Kualitas Tanah

542
Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro Lakukan Pengukuran Kualitas Tanah
Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro, Yerry Noer Kartiko saat memberikan keterangan terkait pengukuran kualitas tanah Kota Metro di ruang kerjanya. Foto: dra - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Guna mengetahui kualitas tanah di Kota Metro, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Metro melakukan pengukuran kualitas tanah yang memproduksi biomasa seperti areal persawahan dan peladangan di Kota Metro. Dimana, di tahun 2016 ini, dilakukan pengukuran sampel tanah di 4 titik di Kecamatan Metro Pusat.

Kepala KLH Kota Metro, Yerry Noer Kartiko menjelaskan, dari sisi hukum instansinya mempunyai tugas dan fungsi untuk mengetahui kualitas lingkungan, baik itu lingkungan air, tanah, dan udara. Hal ini sudah tercantum di SPM, UU, dan RPJM. Sehingga, menjadi sebuah keharusan bagi institusi LH setiap daerah untuk mengukur produksi biomasa dan menjadi indikator kinerja.

Dari hasil pengukuran tahun 2014 yang dilakukan di delapan titik, yaitu empat lokasi di Kecamatan Metro Utara dan empat lokasi di Kecamatan Metro Selatan, dan dilanjutkan pada tahun 2015 juga 8 titik, yaitu 4 lokasi di Kecamatan Metro Timur dan 4 lokasi di Kecamatan Metro Barat, diketahui kualitas tanah di Kota Metro masuk dalam kategori rusak ringan.

”Rusak ringan, dan semua hampir sama. Tingkat keasamannya, daya hantar listriknya, dan redoks. Untuk yang tahun 2016 ini, yang kita lakukan di Kecamatan Metro Pusat masih kita tunggu hasilnya. Apakah memiliki kencenderungan yang sama atau tidak,” jelasnya kepada Sebatin.com Jumat (07/10/2016).

Lanjutnya, pengukuran kualitas tanah tersebut tidak bisa dilakukan di semua tanah di Kota Metro tetapi hanya di daerah yang memproduksi biomasa. Dan dalam pengukuran tersebut, juga ada aturannya.

”Jadi kita buat segementasi per kelurahan. Tetapi juga tidak semua kelurahan, kita hanya mengambil sampel saja. Dan kenapa hanya sedikit, karena kita juga keterbatasan anggaran. Kalau anggarannya banyak, kita bisa lakukan pengukuran ini setiap tahun dan titiknya juga akan kita perbanyak. Selain itu juga, dalam pengukuran tanah itu ada aturannya, per 100 Ha tanah beberapa titik yang kita ambil,” lanjutnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, dilihat dari hasil pengukuran dan tingkat keasaaman, kemungkinan besar kerusakan yang terjadi akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Untuk itu, masyarakat diharapkan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan memperbanyak pupuk organik.

”Tetapi itu untuk tiga parameter seperti tingkat keasaman, daya hantar listrik dan redoks. Tanah yang baik itu tingkat keasamaannya lebih dari 4,5 dan di bawah 8,5. Yang kita khawatirkan, kalau pupuk kimia dan pestisida digunakan secara terus menerus, 10 atau 20 tahun kedepan, kualitas tanah akan semakin rusak dan bisa berbahaya,” pungkasnya.

(dra)

Tinggalkan Komentar Anda