Karya Kerajinan Tangan di Dalam Kurungan

447
Karya Kerajinan Tangan di Dalam Kurungan
Supardi warga binaan saat diwawancarai Sebatin.com. Foto: Arby - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Meski kehilangan kebebasan dari dunia luar, tidak mematikan kreativitas warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Kota Metro Lampung. Dengan peralatan seadanya mereka mampu menghasilkan kerajinan kain tapis yang kualitas sungguh menawan.

Dari pantauan Sebatin.com, terlihat aktivitas sehari-hari narapidana (Napi) laki-laki di Lapas kelas II A Kota Metro. Di ruangan kurang lebih 4 x 4 meter, para Napi dengan cekatan membuat pola hingga menjahit kain tapis dengan berbagai motif.

Menggunakan peralatan sederhana mereka mampu menghasilkan kain yang merupakan ciri khas Lampung ini. Dari motif gajah, kaligrafi, dan motif lainnya.

Hasil kerajinan warga binaan ini sebagian menjadi buah tangan atau oleh-oleh dari Lapas, sebagian dipamerkan di setiap perlombaan dan sisanya di pasarkan hingga keluar penjara sesuai dengan pesanan.

Membuat kerajinan tapis ini merupakan bagian program bimbingan kemandirian dan pelatihan kerja lapas kelas II A Kota Metro, Program ini diharapkan dapat menjadi bekal ketika warga binaan kembali ke masyarakat.

Supardi, Salah seorang warga binaan pengerajin tapis ini mengatakan, kegiatan tersebut ia jalani untuk mengibur diri selama di dalam lapas, selain itu supaya menjadi bekal ketika dirinya bebas kelak.

“Nggak ada kendala kalo’ buat tapis ini, yang penting teliti, sabar dan tekun aja sih, ya namanya kerjaan kaya gini kalo’ nggak di telatenin ya nggak jadi. Dari pada kita di lapas kaya gini terus jenuh, kalo’ ada kegiatan kaya gini kan kita bisa refresh. Dan supaya kalo’ kita keluar nanti sudah ada bekal, karena kalo’ kita keluar nanti biasanya lama baru dapet kerjaan,” ujarnya saat diwawancarai Sebatin.com di dalam lapas kelas II A Kota Metro, Sabtu (11/03/2017) lalu.

Narapidana ini juga menjelaskan, membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menyelesaikan satu kerajinan kain tapis. Dan hasil dari kerajinan tersebut digunakan untuk membeli bahan baku, kebutuhan narapidana dan tabungan narapidana.

“Kalo’ bahan dasar ini sekitar satu bulanan lah baru jadi. Kalo yang lain variasi, bisa jadi 2 sampai 3 minggu untuk ukuran kecil, kalo’ besar satu bulan. Hasilnya ya digunakan untuk membeli bahan baku dan sebagiannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di lapas terus buat tabungan juga kalo’ pas bebas nanti,” paparnya.

Sementara itu Kepala Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Kota Metro, Teguh Wibowo mengungkapkan, dimulainya kerajinan tersebut atas kerjasama pemerintah daerah dengan pihak lapas lalu selanjutnya mulai mengembangkan pola sendiri dan telah telah 4 tahun menjalani program keterampilan di lapas tersebut.

“Ya dimulai dengan pelatihan melalui kerjasama dengan pemerintah daerah untuk mengirim tenaga ahlinya untuk mendidik warga binaan, selanjutnya kita mengembangkan sendiri dengan variasi sendiri. Khususnya untuk kaligrafi ayat kursi dengan sarung tapis yang dibutuhkan dis ini. Di sini sudah berjalan cukup lama sekitar empat tahun, jadi kita juga menseleksi yang ketat karena memerlukan ketekunan dalam pembuatan tapis ini,” ungkapnya saat diwawancarai Sebatin.com di halaman Lapas setempat.

Karya Kerajinan Tangan di Dalam Kurungan 2
Kepala Lembaga Permasyarakatan Kelas II A Kota Metro, Teguh Wibowo Saat diwawancarai Sebatin.com. Foto: Arby – Sebatin.com

Dirinya mengharapkan pemerintah daerah dapat membantu menyediakan tenaga ahli di bidang kerajinan tapis untuk memberi pemahaman kepada narapida yang baru.

“Kita belum punya bapak asuh, ya mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah daerah kalau warga binaan perlu digiatkan supaya tidak berfikir yang macem-macem, karena ini potensi sekali karena setiap saat dia ada disini dan siap untuk dipekerjakan,” harapnya.

Hingga saat ini lapas kelas II A Kota Metro telah memiliki sedikitnya lima jenis kerajinan dari kain tapis. Salah satu yang menjadi unggulan adalah hiasan kaligrafi ayat suci Al-Qur’an yang dibalut dengan kain tapis yang dibingkai.

Karya warga binaan itu dibandrol dari tiga ratus ribu hingga jutaan rupiah, soal kualitas jangan ditanya, produk ini dinilai dapat mengalahkan produk home industri lainnya. (Arby)

Tinggalkan Komentar Anda