Konsep Full Day School di Indonesia, Profesor Finlandia : Belajar itu Kualitas, Bukan Kuantitas

719
Konsep Full Day School di Indonesia, Profesor Firlandia : Belajar itu Kualitas, Bukan Kuantitas
(Ilustrasi)

Sebatin.com, Jakarta – Wacana Full Day School yang digadang-gadang oleh pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) belakangan ini menuai kontra bagi masyarakat Indonesia, pasalnya para orang tua wali menganggap bahwa wacana ini akan mengganggu kehidupan sosial si anak itu sendiri.

Ujung dari penolakan wacana ini adalah dengan adanya petisi penolakan ‘Pendidikan “Full Day” Sehari Penuh di Indonesia’. Hingga berita ini diturunkan sudah ada 44.657 orang yang menandatangi petisi ini pertanda para wali menyetujui penolakan tersebut.

Disamping permasalahan full day school di Indonesia, sebatin.com merangkum hasil wawancara Profesor Erno Lehtinen, guru besar pendidikan dari Universitas Turku Finlandia dengan detik.com dan beberapa laman situs yang membahas tentang sistem pendidikan di negara Finlandia.

  1. Untuk Bersekolah, Seorang Anak Minimal Berusia 7 Tahun

Menurut Profesor Erno Lehtinen, pendidikan di Findlandia berbeda dengan negara lain, disana sangat menghargai anak-anak bermain bebas dan melakukan hal-hal lain dari pada harus duduk dikelas.

  1. 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat

Sistem pendidikan Findlandia tidak memperhatikan lamanya waktu untuk belajar. Namun lebih memperhatikan kualitas pengajaran, bukan panjangnnya jam belajar.

  1. Indonesia Ada Kelas Akselerasi, Findlandia ? Semua Sama

Saat kita duduk di bangku sekolah unggulan, pasti akan menemukan 1 – 2 kelas akselerasi yang diisi oleh siswa-siswa yang dianggap lebih pintar dari yang lainnya. Namun hal ini sanggat berbeda dengan negara Findlandia. Mereka menganut sistem kelas Inklusif, dimana mereka mengumpulkan siswa yang pintar dan kurang pintar menjadi satu kelas, dengan tujuan agar semua siswa dari semua latar belakang keluarga dan yang mengalami kesulitan dalam belajar memiliki kesempatan yang sama dalam belajar.

  1. Ujian Nasional Bukan Ajang Evaluasi, Tapi Guru lah Yang Berperan Mengevaluasi Langsung

Pada pendidikan dasar di Findlandia tidak menerapkan UN kepada siswanya, UN hanya ada di sekolah menengah. Tidak ada rangking untuk setiap muridnya, namun guru akan menjamin semua siswa belajar dengan pantas.

  1. Mulai Dari TK Hingga Bangku Kuliah Gratis

Profesor Erno Lehtinen mengungkapkan bahwa pendidikan di Findlandia mulai dari dasar hingga sampai doktoral di gratiskan untuk warga Findlandia dan warga Uni Eropa. Namun ia juga menambahkan, pendidikan gratis ini didapatkan karena pajak disana sangat tinggi, mencapai 50% dari penghasilan per tahunnya untuk setiap warganya.

Lalu apakah kita patut menyalahkan sistem pendidikan di Indonesia ? hal itu merupakan tindakan yang tidak tepat. Karena setiap negara punya sistemnya masing-masing, untuk menerapkan seperti yang ada di Findlandia untuk sekarang bukanlah hal yang gampang bahkan belum mungkin bisa. Contoh saja pemerintah Findlandia memberikan fasilitas sekolah gratis dengan catatan pajak warganya sangat tinggi. Di Indonesia ? bayar pajak saja sukar, bagaimana bisa fasilitas terpenuhi?

Untuk itu marilah kita bersama-sama mengembangkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan cara memberikan kritik dan saran yang tepat dan membangun bagi program-program pendidikan yang ada, sehingga kualitas para pelajar Indonesia bisa terus membanggakan Ibu Pertiwi di kanca Internasional. (Willi)

Tinggalkan Komentar Anda