Maiyah Dusun Ambengan Edisi – 41 : GHUROBA

27
Ghuroba
Lefleat Maiyah Dusun Ambengan Edisi - 41

Sebatin.com – Di sebuah kehidupan pedesaan, ada sekelompok orang yang mencoba untuk membina anak-anak desa dalam menyalurkan hobi bermain sepak bola. Bermula dari segelintir anak yang berlatih, lambat laun jumlahnya menjadi banyak. Untuk lebih mudah mengkoordinir anak-anak tersebut, maka dibentuklah sebuah wadah sekolah sepak bola (SSB) lengkap dengan nama, logo dan susunan pengurus.

Kemudian disepakati oleh pengurus, anak hanya dibebankan uang pendaftaran pertama, selebihnya adalah gratis. Lalu bagaimana dengan keberlangsungan menjalankan kepengasuhan SSB ?. Adalah tandur. Tandur kebaikan dengan berbagi ilmu dan pengalaman tentang sepak bola serta dengan memasukkan nilai-nilai kehidupan didadalamnya. Pengurus SSB berkeyakinan kalau kita berusaha pasti ada jalan, bahwa ‘Gusti Allah Mboten Sare’ dijadikan pedomannya. Juga menebalkan keyakinan kepada hadis Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Berbahagialah orang-orang yang asing (Al Ghuroba), yaitu orang-orang salih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk, dan orang yang memusuhinya lebih banyak dari pada yang mengikuti mereka”. (HR. Ahmad).

Sikap dan lakon asing yang ditempuh oleh para pengasuh ini merupakan salah satu contoh yang menginspirasi para penggiat untuk mengangkat tema ‘Ghuroba’ dalam kajian bulanan kegiatan Maiyah Dusun Ambengan edisi ke-41 kali ini.

Dalam skala kecil, apa yang dilakukan para pengurus SSB tersebut merupakan sebuah implementasi dari apa yang diterangkan oleh hadis tersebut di atas. Mengelaborasi nilai-nilai kehidupan ke dalam sepak bola, bahwa bukan hanya sebuah olah raga, tapi juga bernilai ibadah. Lakon urip yang dijalani dalam mengelola SSB ini tentu saja dianggap sesuatu yang nyeleneh serta asing, menyempal serta menabrak dari aturan-aturan normal yang dilakukan oleh jamaknya SSB lain yang ada.

Dalam skala besar, ditengah sikap hedonisme masyarakat dewasa ini yang kian merasuk kedalam setiap jengkal kehidupan. Dengan menganggap bahwa materi adalah puncak dari kebahagiaan, maka manusia banyak yang kalap dan bersikap pragmatis. Lupa akan siapa diri dan posisi di dunia ini. Manusia justru cenderung melakukan hal-hal yang merusak untuk bisa mencapai kebahagiaannya sendiri.

Untuk tidak ikut terseret lebih dalam oleh arus hedon yang pragmatis, maka kita harus me-recharge kembali pola pikir kita. Dengan menyadari siapa kita dan apa yang diembankanTuhan kepada manusia, menjadi manusia Ghuroba, manusia yang terasing dengan selalu melakukan kebaikan dan memperbaiki disaat yang lain merusak, menjadi manusia dengan tingkah laku indah serta berusaha mengindahkan tingkah laku orang lain.

Ditengah-tengah orang yang sudah menganggap moralitas yang rusak sebagai ciri moderen. Bertahan kepada norma dengan seluruh keyakinannya yang dianggap aneh. Sesuai sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, “Mereka mengisi apa yang hilang, mereka melengkapi apa yang ganjil, mereka memenuhi apa yang kosong”.

Mari duduk melingkar di Rumah Hati Lampung dalam majelis ilmu, sinau dan bergembira bersama Maiyah Dusun Ambengan, Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, Sabtu, 12 Januari 2019, jam 20.00 WIB. (Cak Sul)

Tinggalkan Komentar Anda