Memetik Empat Hal Menarik Dalam “PROGO 4”

228
Sampul Progo 4. Sumber : Penulis

Resensi oleh Asrul Sanie

Judul Buku : PROGO 4; Temanggung dalam Puisi 2017
Penulis       : 32 Penyair Indonesia
Penerbit     : CV Raditeens
Tebal          : 108 halaman
Terbit         : Mei, 2017
Harga         : Rp40.000,-

Kalau melihat judul bukunya, masyarakat Jawa Tengah dan DIY khususnya, sudah merasa tidak asing lagi karena di daerah itulah Progo berada. Progo adalah sungai yang mengaliri daerah Jawa Tengah dan DIY yang bersumber dari lereng Gunung Sindoro, Temanggung, yang melintas ke arah tenggara melewati daerah Magelang lalu ke selatan menuju Yogyakarta sepanjang 140 km dan bermuara di Samudera Hindia. Di kanan-kiri sepanjang aliran Progo itu hiduplah masyarakat yang dinamis, sejarah yang luhur, ragam budaya yang elok, dan berbagai macam sumber daya alam yang bernilai tinggi.

Progo 4 ini adalah lanjutan dari seri Progo sebelumnya, namun secara isi, seri yang ke-4 ini mengangkat tema yang lebih spesifik dari sebelumnya. Menurut kurator, ada banyak puisi yang terkumpul, yang mungkin tidak kalah bobotnya, tapi tim kurator sudah memutuskan tema yang diangkat adalah tentang “Temanggung”, sehingga banyak karya puisi yang belum bisa masuk di dalam buku ini meski itu adalah karya penyair yang cukup senior.

Membaca antologi puisi Progo 4 karya 32 Penyair Indonesia ini membuat saya bisa melihat Temanggung dari berbagai sudut. Para penyair punya sudut pandang masing-masing dalam melukiskan bagian-bagian tubuh Temanggung dengan puisi-puisinya. Banyak hal yang mungkin memang belum saya jumpai sebelumnya, atau mungkin juga sudah saya jumpai tetapi belum saya kenali dan pahami. Dari Progo 4 ini saya mendapatkan pencerahan itu.

Setelah membaca isi Progo 4, saya menemukan 4 hal menarik seperti yang telah saya sebutkan di atas. Pertama, masyarakat yang dinamis. Masyarakat Temanggung selalu memiliki semangat dalam bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup untuk keluarga. Berada di daerah bersuhu sejuk dikelilingi 3 gunung (Sumbing, Sindoro, Prau), tidak membuat para warga merasa malas. Meski dingin, sehabis Subuh biasanya mereka—karena kebanyakan bertani—sudah siap sedia berangkat ke sawah atau ladang mereka. Karena kerja keras itu, masyarakat Temanggung, baik yang tinggal di pedesaan maupun di perkotaan juga sudah mampu mengimbangi atau menyikapi kondisi, situasi, dan apa pun yang terjadi seiring perkembangan zaman.

Kedua, sejarah yang luhur. Temanggung sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. Ada beberapa bukti sejarah antara lain candi, prasasti, arca, yoni, mata air, dan benda-benda maupun daerah bersejarah lainnya yang bisa dilihat hingga kini. Maka dari itu, kontribusi Temanggung terhadap khazanah sejarah nasional juga cukup besar.

Ketiga, ragam budaya yang elok. Di dalam Progo 4, para penyair menyebutkan beberapa contoh keragaman budaya Temanggung, misal: jenis makanan khas, ada brongkos, empis-empis, cethil, cucur, dll.; jenis kesenian tradisional, ada jaran kepang, kubra siswa, topeng ireng, cengklungan, dll.; upacara ritual, ada gregeg bebek, nyadran, jumat pahingan, kirab gunungan, merti desa, dll., yang masih bisa dijumpai hingga kini oleh masyarakat setempat dan luar kota.

Keempat, sumber daya alam yang bernilai tinggi. Temanggung merupakan daerah penghasil tembakau. Setidaknya itu yang lebih dahulu dikenal orang luar. Akan tetapi sebetulnya Temanggung memilki kopi yang sekarang booming di seluruh nusantara, bahkan dunia. Kualitas tembakau dan kopi dari Temanggung bisa bersaing di dunia internasional. Selain itu, tanah Temanggung cocok untuk ditanami berbagai macam tanaman yang berpotensi untuk mendukung perekonomian masyarakat. Sementara dari segi pariwisata, Temanggung juga memilki banyak tempat wisata yang tak kalah menarik yang sedang dikembangkan. Tempat-tempat tersebut masih asri dan asli.

Kiranya itulah hal menarik yang bisa saya petik setelah membaca Temanggung melalui puisi-puisi karya 32 penyair Indonesia dalam buku antologi puisi Progo 4. Para penyair menorehkan karyanya dengan tulus. Para penyair yang dari luar Temanggung pun terlihat sangat menikmati Temanggung dengan caranya sendiri, dengan puisi-puisinya yang sangat mengena di hati. Saya merekomendasikan buku ini untuk Anda semua.
__

*) Peresensi:
Asrul Sanie. Lulusan Akuntansi Politeknik Negeri Ujung Pandang. Kini tinggal di Temanggung.

Tinggalkan Komentar Anda