Muji, Potret Warga Miskin Pringsewu yang Butuh Uluran Tangan

770
Muji, Potret Warga Miskin Pringsewu yang Butuh Uluran Tangan
Muji bersama istrinya Wiwik dan anak bungsu mereka. Foto: Sanusi - Sebatin.com

Sebatin.com, Pringsewu – Di Pekon Waringinsari Barat Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu, ternyata masih terdapat warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, contohnya keluarga dari pasangan suami istri Muji (46) dan Wiwik (43).

Diketahui, mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang kondisinya sangat memprihatinkan. Rumah tersebut berdinding papan dan geribik serta berlantaikan tanah, dengan ukuran 4 x 6 meter, ditambah emperan 3 meter yang digunakan sebagai dapur tempat memasak sekaligus dijadikan tempat untuk memanaskan air nira kelapa yang kemudian dijadikan gula merah.

Pasutri ini mempunyai tiga orang anak, yang pertama berumur 18 tahun dan telah putus sekolah pada saat kelas 3 SMP, anak yang ke dua sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP, kemudian anak nomor tiga duduk di kelas 2 SD.

Muji, Potret Warga Miskin Pringsewu yang Butuh Uluran Tangan
Putera tertua pasangan Muji dan Wiwik yang telah putus sekolah sejak kelas 3 SMP. Foto: Sanusi – Sebatin.com

Meskipun saat ini anak kedua dan ketiga mereka masih bisa mengenyam bangku pendidikan, namun keduanya juga terancam putus sekolah karena faktor keterbatasan biaya.

Ketika Sebatin.com berkunjung ke rumah keluarga Muji (11/04/2017), dengan ramah ia mempersilakan masuk. Di kediamannya tersebut, Muji mulai bercerita tentang pekerjaannya yang hanya sebagai seorang buruh.

“Saya cuma buruh mas, kerja nyadap nira kelapa dan dibuat jadi gula merah, itupun pohon kelapa milik orang lain,” ujarnya lirih.

Muji, Potret Warga Miskin Pringsewu yang Butuh Uluran Tangan 3
Muji dan Wiwik, potret warga miskin di Pekon Waringinsari Barat, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu. Foto: Sanusi – Sebatin.com

Lebih lanjut, kepada Sebatin.com Muji mengaku sangat kesulitan dalam ekonominya dan yang sangat memberatkan adalah karena ia memiliki hutang senilai Rp. 5 juta kepada salah satu tetangganya, yang merupakan seorang penampung gula di daerah tersebut. Dalam perjanjian hutang piutang itu, Muji mengangsurnya dengan menggunakan setoran gula merah.

“Untuk memenuhi kebutuhan hidup, saya terpaksa pinjam uang 5 juta kepada bos agen gula dan bayarnya pake setoran gula yang saya bikin,” ungkapnya.

Menurut Muji dan Wiwik setiap kali setor gula kepada yang meminjami uang tersebut, gula mereka hanya dihitung dengan kisaran harga Rp. 6.600 saja, walaupun harga di pasaran sudah mencapai 8.000/kg atau lebih.

Sementara itu, ketika ditanyakan tentang pengobatan jika mengalami sakit, dengan mata berkaca, Wiwik mengaku hanya mengandalkan obat-obatan dari warung tetangga.

“Kemampuannya hanya bisa membeli obat-obatan yang ada di warung aja, sembuh gak sembuh, ya pakek obat warung itu,” ujarnya.

(Sanusi)

Tinggalkan Komentar Anda