NGO Ini Waspadai Penyebaran Ajaran Menyimpang

762
Ketua Devisi Lingkunan dan Sosial, Non Governmental Organizations (NGO) Aliansi Lingkungan Hidup Sosial Bojonegoro, Ariel Sharon . Foto : Istimewa

Sebatin.com, Bojonegoro – Ketua Devisi Lingkunan dan Sosial, Non Governmental Organizations (NGO) Aliansi Lingkungan Hidup Sosial Bojonegoro, Ariel Sharon menilai momentum Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) merupakan sebuah kesempatan bagi fundamentalis untuk menyebarkan paham menyimpang.

Sesuai pengamatannya, jelang Pilkada di berbagai daerah, check sound dan check respon sudah dipersiapkan. Hal itu bertujuan agar dapat diketahui bahwa, daerah tersebut memiliki respon masyarakat yang besar atas sosial media melalui cara menyebarkan tulisan tentang konten mereka yang berbau agama.

“Misalnya like n coment agar masuk surga” kata Ariel disela diskusi mingguan ALAS Institute,) di Sekretariatnya Jalan Kapten Rameli, 184 A, Ledok Kelon, Bojonegoro, Jumat (1/12).

Dengan itu, masyarakat diminta untuk mengetik ‘Amin semoga saudara kita yang terzalimi selalu dalam lindungannya’ dan ‘atau share post ini agar kita selalu di dalam lindungannya’.

“Cara tersebut tentunya bisa digunakan untuk mengidentifikasi bahwa respon masyarakat besar atas ajaran mereka. Maka diberikan stimulus persoalan agama melalui cara menyebarkan konten perdebatan,” terangnya.

Sehingga, lanjut Ariel, konten yang diunggah pun beda. Seperti, musim libur panjang, banyak sekali hotel-hotel sekitar kota kita untuk di razia. Mohon Satpol PP dan pihak berwajib bekerja keras lagi menghadapi kemungkinan maksiat di tempat tersebut.

“Atau kalau momentum pas bulan puasa. kontennya begini, mari kita semua menjaga kesucian bulan ramadhan dengan menutup seluruh tempat makan di siang hari. Jika ada yang buka pemerintah harus bersikap tegas dengan menutup paksa. Serta berbagai macam contoh konten profokasi lainnya,” ujarnya.

Dengan demikian, imbuh Ariel, masyarakat daerah tersebut yang berada di dalam suatu grup medsos dapat teridentifikasi melalui dua tahap. Jika tahap pertama banyak yang respon (dengan like, coment, share, maupun ketik amin, red). Maka nilai pertama adalah masyarakat memiliki kesadaran pada konten yang mereka berikan.

Namun, jika ternyata tahap kedua memiliki respon yang kontra maka wilayah tersebut masih perlu di datangi dan disentuh secara langsung seperti misionaris datang untuk live in.

Lanjutnya, tapi jika respon masyarakat menerima dengan baik, maka akan ada gerakan di daerah tersebut yang dipelopori golongan mereka untuk menyebarkan ajaran menyimpang mereka yang cenderung anarkis.

“Seperti gerakan sweeping warung di siang hari pada bulan ramadhan,” jelasnya.

Sebetulnya, lanjut  Ariel Sharon, ciri akun provokatif itu dapat diidentifikasi, gambar palsu, tidak menunjukkan identitas asli.

“Waspadai gerak gerik akun provokatif pada grup medsos umum yang ada di kota kalian,” pesannya.

Reporter : Addarori Ibnu Wardi

Tinggalkan Komentar Anda