Pak Dwi, Kepala Sekolah yang Senang Bertani

300
Pak Dwi, Kepala Sekolah yang Senang Bertani
(Ilustrasi)

Sebatin.com, Sumatera Selatan – Di zaman yang semakin modern dan global ini, persaingan semakin ketat. Siapa yang kuat dia yang menang. Sebagai manusia yang beradab, maka rasanya malu jika hendak meminta-minta ke orang lain. Meskipun hanya sekadar meminta pertolongan untuk dipinjamkan uang yang nantinya tentu dikembalikan.

Setiap orang sepertinya harus memiliki pekerjaan sampingan. Sebab, semakin hari biaya hidup semakin tinggi. Menjadi petani juga bisa dijadikan pilihan. Tentunya, bukan petani yang seperti zaman dahulu yang sangat tradisional. Kita bisa menjadi petani modern di zaman yang terus berkembang ini.

Seperti halnya Dwi Kusworo atau lebih akrab dipanggil Pak Dwi, seorang pria paruh baya yang tinggal di Desa Karang Endah, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Ia adalah Kepala Sekolah di SMA Muhammadiyah Prabumulih yang juga berprofesi sebagai seorang petani karet.

“Saya dua hari sekali panen. Dalam dua minggu ya kira-kira bisa menghasilkan sekitar empat jutalah,” jawabnya saat Tim Sebatin.com mewawancarainya, Rabu (14/04/2017).

Sejatinya, bahkan tanpa memiliki pekerjaan utama dan menjadikan usaha kebun karet ini menjadi pekerjaan utama pun sudah bisa hidup yang layak. Apalagi menjadikannya pekerjaan kedua atau sampingan.

Pak Dwi, Kepala Sekolah yang Gemar Bertani 2
Dwi Kusworo, Kepala Sekolah yang gemar bertani. Foto: Al Hadeed – Sebatin.com

Buah hasil dari kesabaran memanglah manis. Untuk memiliki usaha kebun karet dan meraih keuntungan dari sana diperlukan kesabaran yang cukup. Sebab untuk bisa menghasilkan latex atau getahnya, pohon karet membutuhkan waktu lima sampai tujuh tahun. Biasanya, kebun-kebun karet milik perusahaan disadapnya menunggu usianya mencapai tujuh tahun. Namun, kalau petani perorangan biasanya hanya lima tahun. Selama lima sampai tujuh tahun tersebut, kebun karet harus senantiasa dirawat. Ia harus dipupuk dan dibersihkan dari gulma.

Setelah bisa disadap dan menghasilkan pun, kebun karet harus selalu dirawat. Yang jelas, pemiliknya harus setiap hari menyadapnya. Sebab, jika tidak disadap jelas pohonnya tidak mengeluarkan getah.

Namun, tak sedikit dari pemilik kebun karet yang tidak menyadapnya sendiri. Mereka mempekerjakan orang lain. Keuntungannya mereka bagi. Biasanya pemilik 60 %, sementara penyadapnya 40 %.

Bayangkan saja jika Pak Dwi tersebut yang hanya memiliki satu hectare karet bisa menghasilkan uang senilai tersebut, bagaimana dengan mereka yang memiliki kebun lebih luas darinya. Maka, membuka usaha kebun karet juga bisa menjadi pilihan kita di tengah ekonomi Indonesia yang semakin mencekik ini. (Al Hadeed)

Tinggalkan Komentar Anda