Panglima TNI : Proxy War Bisa Hancurkan Negara Tanpa Peluru

291
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, saat menyampaikan Dialog Ketahanaan Informasi Nasional, di hadapan Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, di Gedung Sport Center UIN, Malang, Jawa Timur, Jumat (24/11). Foto : Kolonel Inf Bedali Harefa, S.H.

Sebatin.com, JakartaProxy War merupakan salah satu perang yang menggunakan pihak ketiga atau kelompok lain untuk menghancurkan suatu negara tanpa menggunakan peluru (kekuatan militer). Tetapi, perang tersebut melalui berbagai aspek, baik ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. Cukup dengan mengadu domba antar kelompok warga negara, perang gaya baru ini sudah bisa membuat negara tersebut terpecah belah.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, pada acara Dialog Ketahanaan Informasi Nasional, di hadapan 3.545 Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, dengan tema ‘Mewujudkan Indonesia sebagai Bangsa Pemenang Dalam Kompetisi Global’ yang bertempat di Gedung Sport Center UIN, Jl. Gajayana No. 5, Malang, Jawa Timur, Jumat (24/11).

Melihat perkembangan penggunaan telepon seluler, internet, dan media sosial yang sangat luar biasa ini, kata Gatot, kalau tidak waspada, Indonesia sangat rawan menjadi kancah Proxy War. Proxy War dapat dilakukan dengan menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial.

“Sebenarnya apabila semua anak bangsa ini sadar dan bersatu melawan hoax maka moral karakter mental Indonesia akan lebih hebat,” ucapnya.

Sebenarnya, terang Gatot, tidak terlalu sulit dan cukup simpel untuk membendung Proxy War di tanah air, yaitu jangan menyebarkan informasi yang menimbulkan kemarahan, terutama apabila ada berita negatif yang berpotensi menyebabkan ketersinggunan dan mengadu domba. Sebaiknya, apabila ada berita ataupun informasi tidak jelas sumbernya, sebaiknya dihapus saja.

Orang nomor satu di lingkungan TNI ini juga menyampaikan, bahwa membangun media sosial yang positif sangat diperlukan dalam menghadapi bonus demografi dan lapangan kerja, termasuk pertumbuhan ekonomi. Ia memberikan motivasi kepada mahasiswa UIN karena, universitas tersebut merupakan tempat untuk mendidik calon-calon penerus bangsa, yang paham dengan rasa aman. Sebab, mahasiswanya dapat berpikiran secara logis dalam bertindak, dan juga selalu mengedepankan akhlak.

“Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim berperan strategis untuk melahirkan kader-kader bangsa yang memiliki kedalaman spritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu dan profesional, mengamalkan hidup berdasarkan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan maju serta terkemuka,” jelasnya.

Pada kesempatan itu juga, Gatot mengingatkan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim agar jangan mudah puas dalam proses belajar, dan mempelajari ilmu sebanyak-banyaknya. “Yang paling penting adalah lakukan semua dengan hati, do by hard serta selalulah berdoa kepada Tuhan untuk keberhasilan semua usaha,” ingatnya.

Dirinya juga menuturkan bahwa, negara yang kalah dalam kompetisi global akan menjadi negara multi krisis, dan berimbas pada krisis sosial, migrasi perpindahan manusia antar negara untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Konflik antar negara di seluruh dunia saat ini, lanjut Gatot, sejatinya dilatarbelakangi oleh perebutan energi dan pangan. Kedepan, konflik di dunia akan bergeser ke daerah ekuator, yang salah satunya Indonesia.

Mengakhiri acara dialognya, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengingatkan kembali bahwa Pancasila adalah pemersatu bagi bangsa Indonesia yang Berbhineka Tunggal Ika. Dikarenakan, Pancasila diambil dari intisari nilai-nilai luhur bangsa, budaya daerah, kearifan lokal, budi pekerti dan juga nilai-nilai agama.

“Ideologi Negara Pancasila sudah final dan tidak boleh siapapun juga merubahnya, jika ada yang ingin merubahnya jangan percaya dan diikuti, itu penghianat bangsa,” tegasnya.

(Rls)
Editor : Addarori Ibnu Wardi

Tinggalkan Komentar Anda