Persawahan Desa Teluk Dalem Ilir Terbengkalai, Komisi III DPRD Lamteng Panggil Dinas Terkait

20
Persawahan-Desa-Teluk-Dalem-Ilir-Terbengkalai,-Komisi-III-DPRD-Lamteng-Panggil-Dinas-Terkait-01
Ketua Komisi III DPRD Lamteng, Sumarsono

Sebatin.com, Gunung Sugih – Adanya laporan dan keluhan dari para petani yang berada di Teluk Dalem Ilir, Kecamatan Rumbia, terkait kondisi persawahan mereka yang terbengkalai akibat adanya program cetak sawah pada tahun 2017, memaksa Komisi III DPRD Lampung Tengah (Lamteng) untuk menggelar hearing dengan Dinas Pertanian dan Dinas Pengairan setempat.

Dalam hearing, Ketua Komisi III DPRD Lamteng, Sumarsono meminta kepada dinas terkait untuk secepatnya meninjau kondisi sawah para petani tersebut. “Intinya, lahan yang dikeluhkan warga itu merupakan obyek program cetak sawah di tahun 2017. Dan disampaikan juga oleh mereka, bahwa lahan yang dicetak sawah tersebut berupa rawa-rawa di tepian Way Seputih, dan sudah pernah menghasilkan”, terangnya di Ruang Rapat DPRD setempat, beberapa waktu lalu.

“Untuk itu, Dinas Pertanian dan Pengairan Lampung Tengah harus turun ke lapangan, untuk mengecek kebenarannya, berapa luas sawah yang dikatakan rusak. Kalau memang ada persoalan, kami segera turun juga. Tetapi untuk saat ini yang bisa dilakukan mengecek lokasi dan mungkin memberi bantuan benih dan pupuk”, terang Sumarsono.

Persawahan-Desa-Teluk-Dalem-Ilir-Terbengkalai,-Komisi-III-DPRD-Lamteng-Panggil-Dinas-Terkait-02
Hearing Komisi III DPRD Lamteng bersama Dinas Pertanian dan Dinas Pengairan setempat, di Ruang Rapar DPRD setempat, Senin (29/10/18).

Diiperkirakan persoalan yang dihadapi warga pemilik lahan adalah kurangnya air. Karena memang tidak ada saluran irigasi di lokasi tersebut. Sementara itu petani di Teluk Dalem Ilir mengakui, sebagain lahan tersebut merupakan rawa-rawa, dan separuhnya merupakan tanah perladangan atau daratan yang semula ditanami pohon karet.

Sebelumnya, rawa-rawa itu sangat menghasilkan ditanami padi, tetapi setelah dicetak menjadi sawah malah sulit dilalui kendaraan dan air menjadi mampat. Mampatnya air disebabkan ada gundukan tanah disana sini, yaitu tanah bekas kedukan cetak sawah.

“Dari luas 30-an hektare, 50 persennya lahan kami adalah daratan yang ditanami karet, jagung, singkong dan kedelai. Tapi yang daratan sekarang jadi rusak,” ujar salah satu petani setempat. (Adv)

Tinggalkan Komentar Anda