Potret Kehidupan Warga Miskin di Kota Metro

734
Potret Kehidupan Warga Miskin di Kota Metro
Kasiyam, istri Suyanto. Foto: Hendra - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro, Lampung – Permasalahan ketidaktahuan warga miskin dalam mendapatkan kemudahan pelayanan publik, baik di bidang kesehatan atau lainnya, sepertinya masih perlu perhatian dari instansi terkait di Pemerintahan Kota Metro. Hal ini tampaknya dialami oleh warga kurang mampu di Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro.

Salah satunya, yakni pasangan suami istri (Pasutri) Suyanto dan Kasiyam warga RW 01 RT 01 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara. Suyanto, sehari-hari bekerja sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota Metro dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara, sang istri Kasiyam juga bekerja sebagai tukang pilah rongsokan di salah satu pengepul sampah di kelurahan tersebut.

Dengan penghasilan Suyanto yang hanya 30 – 40 ribu rupiah dalam dua hari dan ditambah penghasilan Kasiyam yang cuma Rp 15.000,- saja, keluarga tersebut terkadang harus rela makan seadanya. Bahkan, untuk mengkhitankan anaknya pun, keduanya tidak mampu, lantaran terkendala masalah biaya. Padahal, sang anak yang saat ini telah berusia 14 tahun tersebut sudah minta untuk disunatkan.

”Yo cukop ora cukop mas (ya cukup tidak cukup mas). Anakku yo sak jane wes njalok sunat tapi urong disunatke, sebape gak ndue biaya, jenenge wong gak ndue mas, pie meneh? (Anak saya sebenarnya sudah minta disunatkan tapi belum disunatkan, karena tidak punya biaya, orang tidak punya mas mau bagaimana lagi?),” kata Kasiyam kepada Sebatin.com, Kamis (17/11/2016).

Kendati telah mendapatkan bantuan bedah rumah, permasalahan kedua pasangan ini ternyata belumlah usai. Rumah yang baru selesai pembangunannya beberapa bulan lalu tersebut, masih terlihat sangat sederhana.

”Ya seperti inilah mas. Kalau mau nambah biaya ya bagus, tapi kita juga tidak ada biaya. Terima seperti ini saja,” paparnya.

Selain bantuan bedah rumah, keluarga tersebut hanya mendapatkan bantuan beras warga miskin (Raskin).

”Bantuan-bantuan berupa uang yang berjumlah Rp. 600.000,- itu saya tidak dapat. Yang lainnya juga tidak dapat, padahal teman-teman saya pada dapat semua, tapi tidak tahu kenapa kami tidak dapat? Padahal sebelumnya kita juga didata,” jelasnya.

Hal yang sama juga dialami Kari (85). Warga RT 33 RW 09 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara tersebut, puluhan tahun bekerja sebagai seorang pemulung demi menghidupi keluarganya.

Potret Kehidupan Warga Miskin di Kota Metro 2
Mbah Kari. Foto: Hendra – Sebatin.com

Dalam satu minggu, Mbah Kari biasa mengumpulkan barang bekas dan rongsokan sebelum dijual kepada pengepul.

“Tidak tentu mas. Biasanya satu minggu cuma dapat 20 ribu. Itu untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Bahkan, dulu ia pernah diusir tetangga sewaktu menumpang. Namun, setelah diberikan tanah oleh lurah dan dibuatkan rumah hasil gotong-royong warga sekitar, Mbah Kari akhirnya bisa mempunyai rumah.

Kendati hidup susah, Mbah Kari tidak mau mengeluh apalagi sampai meminta-minta. Ia berusaha untuk mencukupi kebutuhannya dari hasil jerih payahnya sendiri.

”Dari dulu sudah biasa mulung untuk makan. Cukup enggak cukup, ya dibuat cukup,” katanya.

Di usianya yang sudah senja, sebetulnya Mbah Kari sudah tidak mampu bekerja. Badannya sudah sering sakit-sakitan dan sekarang tak bisa selalu mencari barang bekas setiap hari.

”Sekarang enggak rutin lagi mas. Kalau lagi enggak mulung, anak saya atau tetangga yang memberi makan,” tutupnya.

(Hendra)

Tinggalkan Komentar Anda