Produksi Padi Metro Pusat 7,1 Ton per Hektare

387
Produksi Padi Metro Pusat 7,1 Ton per Hektare
Kepala DKP3 Kota Metro Lusia Parjiem dan Kepala BPS Kota Metro Taulina Anggarani saat meninjau areal persawahan Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan Metro Pusat, Senin (20/03/2017). Foto: Hendra - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Dinas Ketahan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro bersama Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan pengecekan produktivitas padi (Ubinan) di areal persawahan Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan Metro Pusat.

Kepala BPS Kota Metro, Taulina Anggarani menuturkan, hasil ubinan dengan ukuran 2,5 x 2,5 meter persegi ini akan diambil rata rata dan dilaporkan ke BPS Pusat. Untuk ubinan di Metro Pusat dan Metro Utara mencapai 49 titik.

Sedangkan untuk se Kota Metro, memiliki 98 titik termasuk singkong dan jagung. Ubinan ini diperkirakan akan selesai pada akhir sukron (masa tanam petani), yakni akhir April.

“Sebab angka produktivitas padi per hektare yang akan selalu dipakai adalah angka dari BPS. Jika 98 titik ubinan sudah selesai semua maka akan diambil rata-rata nantinya. Akan terlihat produksi padi kita, dan berapa cadangannya,” tuturnya di areal persawahan, Senin (20/3/2017).

Dari hasil ubinan yang dilakukan di Metro Pusat mencapai 5,6/kg per ubin. Artinya, jika dihitung menjadi per hektare, yakni 2,5 x 2,5 meter hasilnya 6,25 meter persegi. Kemudian 10.000 meter persegi (1 hektare) dibagi 6,25 meter persegi hasilnya 1.600 dan dikalikan 5,6 kg perubin hasilnya 8.960 kg, lalu ketika dikurangi 20% pematang sawah maka dalam perhektarenya hasil produksi padi di Metro Pusat mencapai 7.168 kg per hektare atau 7,1 ton per hektare.

Sementara itu, Kepala DKP3 Kota Metro Lusia Parjiem meminta para petani agar tidak menjual semua padi hasil panen ke tengkulak. Tetapi, disisihkan 10 atau 20 persen untuk dijual ke Bulog. Hal ini, kata dia, untuk membantu program ketahanan pangan.

Ia menjelaskan, pemerintah telah memberikan bantuan kepada petani. Seperti alsintan, sumur bor, pembangunan irigasi, pupuk, obat-obatan, dan lainnya. Sehingga, ia berharap petani ikut membantu ketahanan pangan dengan menjual hasil produksi padinya ke Bulog.

“Sisihkan sekitar 10% – 20% untuk dijual ke Bulog dengan harga Rp. 3.700/kg, harga ini termasuk subsidinya. Ini adalah program pemerintah pusat. Yakni beli gabah kualitas asalan milik petani meski belum dijemur. Jika demikian maka petani sudah ada peran untuk mendukung ketahanan pangan,” tuturnya.

(Hendra)

Tinggalkan Komentar Anda