Puisi: Aku Dan Engkau | Karya Breshifa Ame

237
Puisi: Aku Dan Engkau | Karya Breshifa Ame
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Judul puisi “Aku Dan Engkau” buah karya Breshifa Ame.

Aku Dan Engkau

Engkau…
Gugahkan lelap saat kupulas dalam kosong.
Saat ku tak inginkan aroma asmara tumbuh.
Sebab luka hati terlanjur meradang.
Tapi…
Setiap kulihat senyummu, kurasakan
ada sesuatu yang berarti dalam diriku.

Waktu itu dalam sebuah perjalanan malam, kutoleh
kesyahduanmu di belakang angan-angan.

Sedikit menghirup kecantikanmu, sepertinya
bukanlah hal bodoh yang patut disembunyikan.
Demikian pula satu persatu lirikan kita telah tertambat.
Dan nyayianmu kian larut dalam petikan gitarku.
Sungguh! Betapa aroma malam begitu memukau di sini.

Tapi malam tetaplah malam!
Dia yang menyatukan, namun
dia juga yang pisahkan kebersamaan kita.
Mungkin kantuk adalah dimensi filateli mimpi-mimpinya.
Dan itu sebuah jawaban yang benar!
Selamat tidur untukmu…
Terimakasih atas kebahagiaan yang kau ciptakan malam ini.

Engkau…
Usai renyap terjaga alarm handphone.
Yang tinggal hanyalah sepucuk resah.
Lantas setitik ciummu terbingkai juga di hatiku.
Dan kekhawatirankupun terjawab.
Kau pergi!
Di bawah pagi yang hampir tak bisa kujabarkan.
Di saat seluruh cintaku tiada mampu tuk berucap.
Mengapa?

Antara aku dan engkau.
Sungguh ada perihal impian di benakku.
Yang akan selalu terangi nafas penantian, ketika
malam demi malam kembali terbilang.

Sayangku…
Jika perasaan ini seperti sirup denganmu, biarkan
kunikmati seluruh manisnya hingga larut dalam jiwaku.
Namun jika perasaan ini adalah pil pahit tanpamu, biarkan
kutelani butirannya!
Sampai waktu tak lagi buka kedua mataku.

Aku dalam bekap kekinian masa.
Tiap tetes detik dari kenangan ini, adalah
aku yang menyimpan senyummu.
Selalu saja lurus meski air mata iringi penantian.
Adakah di sana kau rangkum diriku dalam catatanmu?
Pernahkah kau menangis ketika pilu mengenangku?
Seperti aku!

Andai kelak hati kecilmu tersentuh oleh rindu, kembalilah!
Walaupun hanya sebagai gerimis.
Datanglah!
Ringkuslah seluruh dahaga penantian ini!
Dalam rintik yang kan bungkam bibir,
Aku dan Engkau…

Tinggalkan Komentar Anda