Puisi: Ironis – Karya Breshifa Ame

1346
Puisi: Ironis - Karya Breshifa Ame
Puisi: Ironis - Karya Breshifa Ame

Ironis

Ketika subuh menjanjikan permata.
Sebelum peluru emas terlepas dari selongsong ufuk.
Adalah kalimat menyeruak di bukit pinta.
Atau spirit dalam molekul marun bicara.

Sang Pemberi mengutus malaikat pembawa asap.
Untuk melesap dalam ruang-ruang berjelaga.
Masing-masing insani punya kans meraihnya.
Tak terkecuali baik hitam ataupun putih.
Semua tersenyum di pagi itu.

Jasadku kini mengembara nyata.
Di sepanjang doktrin suci para tetua adat.
Mungkinkah berkah? atau
topeng yang disinyalir sebagai fatwa?
Begitu ironis dan tragisnya.
Tapi toh! aku tetap saja diam.
Kujalani hidup seperti halnya air mengalir di kali.

Terlihat …
Sekelompok mata sempurna menatap langit.
Tak idahkan atom sepertiku menjerit di bumi.
Begitu sempitkah kebijakan sejarah?
Dan mengapa waktu begitu enggan menyentuhku?
Sungguh kolonialisasi di tengah kemerdekaan telah terbilang.

Kini …
Di sini …
Dimana panggung telah dikerumuni mata-mata lapar
Aku menjadi pelakon utamanya.


Judul Puisi: Ironis
Karya: Breshifa Ame

Tinggalkan Komentar Anda