Puisi-Puisi Hadi Winata

324
Puisi-Puisi Hadi Winata
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Berikut ini beberapa puisi karya Hadi Winata (19), seorang penulis muda kelahiran Palembang, peraih juara harapan 1 lomba menulis surat tingkat nasional di Bandung, Jawa Barat.

Mimpi Adalah Janji yang Belum Terbayarkan

1/
kutatap gedung-gedung menjulang cakrawala
congkak, tiada pernah ramah kepada siapa saja
lalu kucoba bercermin ke dalam dada,
palung paling nurani
tidak, pikirku berusaha positif

aku menunduk
o, atau mungkin justru kedua tanganku inilah
kedua tanganku sendiri
penyebab duduk perkaranya

aku melanjutkan perjalanan
menuju masjid terdekat

2/
di dalam dada
menggelegak sehimpun rasa
menggetar-luruhkan asa
asa yang telah lama dirajut
dengan sutera empat lima

o, mimpi yang menjadi janji masa itu
mimpi yang menjadi janji dua anak sma
ya, itulah mimpiku
mimpi kami

berkelebat-kelebat mimpi itu di kepala
meminta untuk diwujudkan di hadapan alam semesta

“aku tunggu kau di pekarangan liberty,
kita akan menari di hadapan mentari,”
katamu waktu itu

3/
keluar masjid mencari warung makan
meluruhkan otot-otot yang terlampau tegang
duhai, inilah aku sekarang
menjadi kacung orang-orang berjas hitam

dan kau kawan
terbang-lengang ke luar negeri
demi menjadi seorang TKI

4/
sahabatku,
bukankah tak ada waktu ketetapan
dalam janji kita pada waktu itu?

hentikan sedu-sedan
usia kita belum kepalang
liberty akan terus berdiri
dan mentari akan terus menantang
jiwa kita untuk terus menerjang

2017

Hari Ini

cakrawala terus menyusut
detik-detik semakin mendenting

kini
banyak kujumpai
anak-anak melahirkan bapak
bulan-bulan kemarau mengabadi
air keruh terus ditimbai
bahkan digerus-gerus

di jalan-jalan
di kota-kota besar
senyap semakin kentara
semakin terasa

sementara di banyak desa
orang-orang menggenggam erat
senjata para tetua
menghujamkannya kepada siapa saja

cakrawala terus menyusut
lonceng semesta semakin mendenting

2017

Perihal Sukma yang Membelah Diri

detik-detik menderu
kisah demi kisah
kasih demi kasih
melaju kemudian luruh

kini, di sini
di lembah yang begitu senyap ini
: sukma terus membelah diri
sukma terus menyayat diri sendiri

duhai,
dengan apa harus kutebus semua ini;
semua yang pergi,
semua yang mungkin takkan pernah kembali

2017

Lima Anak Kecil

lima anak kecil terkapar
tak berdaya;
pada musim dingin
yang terus memuncak

butir-butir salju terus turun
angin datang sesekali
kemudian pergi

: cuaca semakin liar!

satu anak selamat
sampai di rumah
dengan rasa penuh kemenangan

sebentar kemudian
: anak itu tertidur selamanya
dalam pangkuan ibu yang terjaga

2017

Tinggalkan Komentar Anda