Ramadhan Nurpambudi: Ancaman Turbulensi Dalam Penerbangan

744
Ramadhan Nurpambudi: Ancaman Turbulensi Dalam Penerbangan
Ramadhan Nurpambudi: Ancaman Turbulensi Dalam Penerbangan. (Ilustrasi)

Sebatin.com – Belum lama ini kita dihadapkan dengan munculnya fenomena turbulensi yang hampir memicu insiden buruk dalam dunia penerbangan. Pesawat Airbus A330-200 Etihad Airways penerbangan EY474 rute Abu Dhabi – Jakarta mengalami turbulensi di udara tepat 45 menit sebelum mendarat di Jakarta. Pesawat Hong Kong Airline dengan nomor penerbangan CRK-6740 yang dipiloti Tinios Peter dan co-pilot Redza Khomeini bin Abdullah harus kembali ke bandara Ngurah Rai akibat terkena turbulensi di wilayah Kalimantan. Menurut BMKG, Fenomena turbulensi ini terjadi pada daerah konvektif dan pada daerah cuaca cerah. Pada umumnya turbulensi akibat awan konvektif mampu diantisipasi oleh pilot karena pesawat akan berusaha menghindari awan CB yang terdeteksi oleh radar di kokpit. Sedangkan untuk turbulensi pada area cuaca cerah seperti akibat mountain wave dan daerah vicinity/dekat awan CB, baik yang sedang tumbuh maupun tingkat matang, umumnya kurang diantisipasi karena radar di kokpit kurang sensitive (karena minimnya jumlah partikel uap air di atmosfer).

Turbulensi

Sebenarnya apa itu Turbulensi? Turbulensi adalah gerak udara yang arahnya tidak beraturan dalam skala kecil dan ditandai oleh angin yang kecepatannya bervariasi. Turbulensi juga didefinisikan sebagai perubahan kecepatan aliran udara yang sering terjadi pada skala kecil, jangka waktu yang pendek, serta acak. Dengan kata lain, ketika kecepatan aliran udara dan/atau arah pergerakannya berubah dengan cepat, maka pada saat itu dapat dikatakan telah terjadi turbulensi udara. Turbulensi dapat terjadi ketika pesawat melewati wilayah yang berawan dan yang cukup berbahaya adalah turbulensi saat tidak ada awan atau yang biasa disebut CAT (Clear Air Turbulence).

Dalam dunia penerbangan turbulensi diklasifikasikan menjadi light turbulence, light cop, moderate turbulence, moderate chop, moderate chop, dan severe turbulence. Jenis inilah yang mengakibatkan guncangan saat penerbangan, turbulensi menyebakan pesawat terhempas ke atas kemudian menjatuhkan kembali ke bawah sehingga pesawat akan bergerak naik turun dengan cepat. Pada saat ini seringkali penumpang yang sedang tertidur atau bahkan sedang berjalan menuju toilet dapat terluka. Itulah mengapa maskapai seringkali mengatakan untuk tetap menggunakan sabuk pengaman bahkan ketika lampu tanda sabuk pengaman telah dimatikan untuk menghindari cedera saat proses pesawat terhempas naik turun tadi. Turbulensi dapat terjadi karena fenomena alam seperti jet stream, mountain waves (gelombang gunung), cold/warm front (pertemuan massa udara panas dan dingin), dan thunderstrom (badai).

Berbeda dari jenis turbulensi lain yang dapat diprediksi dengan memperhatikan radar maupun melihat kondisi cuaca, CAT merupakan turbulensi yang terjadi di saat langit cerah tak ada awan sehingga radar cuaca tidak dapat memprediksi bahwa kondisi tersebut bisa memicu turbulensi. CAT dapat dikatakan jenis turbulensi yang paling berbahaya karena kondisinya tidak dapat diprediksi. Saat pesawat tiba-tiba mengalami Clear Air Turbulence maka tidak ada waktu bagi awak pesawat untuk memperingatkan penumpang untuk kembali ke kursi mereka dan mengenakan sabuk keselamatan. Tak heran mayoritas cedera akibat turbulensi diakibatkan oleh turbulensi jenis ini. CAT memiliki sifat seperti tidak bisa dilihat dan diprediksi sebelumnya sehingga tidak ada alat pada kokpit yang dapat memberikan warning kepada Pilot, seringkali guncangan yang ditimbulkan pada kokpit tidak terlalu besar namun sangat terasa di bagian belakang kabin, bisa terjadi walaupun langit cerah dan tidak ada satupun awan, CAT tidak muncul pada Radar.

Inflight Injuries

Turbulensi merupakan penyebab nomer satu cedera saat penerbangan, banyak pesawat yang harus mendarat darurat di bandara alternatif karena turbulensi yang menerpa mengakibatkan banyak penumpang cedera dan harus mendapat pertolongan. Karena sifat dari CAT yang tiba-tiba dan tidak terprediksi, seringkali menimbulkan banyak cedera ketika tanda sabuk pengaman dimatikan dan penumpang sedang berjalan ataupun sedang bersantai dan tiba-tiba terjadi guncangan akibat CAT. Untuk menghindari cedera saat pesawat mengudara diharuskan untuk selalu memakai sabuk pengaman ketika duduk, meskipun tanda sabuk pengaman telah dimatikan. Dari tahun 1981 hingga 1997 telah terjadi 342 insiden yang berhubungan dengan turbulensi, dimana semua korban pada saat insiden, baik yang meninggal dan mengalami cedera ringan hingga berat pada saat kejadian tidak mengenakan sabuk pengaman.

Mengenai Turbulensi

Turbulensi merupakan kejadian yang umum terjadi saat penerbangan dan kebanyakan tidak berbahaya hanya saja menyebabkan ketidaknyamanan jika terjadi. Cedera yang dapat ditimbulkan turbulensi dominan merupakan cedera ringan dan itupun jarang terjadi, hanya beberapa kasus yang sampai menimbulkan cedera berat hingga berujung kematian. Potensi terjadinya turbulensi adalah di ketinggian diatas 30.000 kaki. Sehingga pesawat yang menempuh perjalanan jarak jauh yang biasanya banyak terkena dampak turbulensi. Pilot dapat mengetahui potensi terjadinya turbulensi dan akan mengaktifkan tanda untuk mengenakan sabuk pengaman. Informasi bisa didapat dari pesawat yang berada di sekitarnya dan juga dari radar cuaca. Namun yang tetap menjadi masalah yaitu CAT, karena pilot dan juga radar tidak dapat memprediksinya. Tidak mengherankan dominan insiden pesawat yang terkena turbulensi disebabkan oleh turbulensi jenis ini. Dari pengamatan para ahli penerbangan, jumlah CAT meningkat seiring dengan pemanasan global. Frekuensi kejadiannya semakin meningkat meskipun kondisi cuaca cerah.

Turbulensi tidak sampai menyebabkan pesawat jatuh, sangat kecil kemungkinannya turbulensi sampai menyebabkan terjatuhnya pesawat meskipun CAT sekalipun. Pesawat sudah dirancang sedemikian rupa untuk tahan terhadap guncangan turbulensi. Jam terbang pilot sangat dibutuhkan pada saat turbulensi terjadi, dibutuhkan ketenangan dalam membaca pola turbulensi sehingga dengan mudah dapat menghindari dan juga melewatinya. Sebelum penerbangan dilakukan, pilot akan menentukan rute yang paling aman untuk dilalui dan jika turbulensi tidak dapat dihindari, pilot tahu cara untuk menenangkan penumpangnya. Untuk menghindari cedera akibat turbulensi, yaitu dengan tidak melepas sabuk pengaman meskipun tanda sabuk pengaman telat dimatikan karena kita tidak pernah tahu kapan CAT akan terjadi. Dihimbau untuk tidak menggendong bayi jika sedang terjadi turbulensi, dudukkan bayi di kursi khusus bayi karena bayi akan mudah terlepas dari pangkuan ibunya ketika guncangan terjadi.

Teknologi Terbaru

Banyak dari ilmuan penerbangan dan sejumlah maskapai berusaha untuk menemukan alat yang mampu mendeteksi CAT, salah satunya dengan menggunakan laser. Pesawat akan disertai dengan laser yang akan ditembakkan setiap saat dan mengirimkan sinyal berupa gambaran yang ada di depannya. Namun alat ini masih perlu pengkajian lebih dalam dan penyempurnaan yang lebih dalam lagi. Para ahli masih akan melakukan percobaan dengan cara memasang alat tersebut pada beberapa pesawat yang melakukan penerbangan jarak jauh dengan ketinggian di atas 30.000 kaki dan melalui jet stream. Pesawat-pesawat ini akan lebih sering berhadapan dengan turbulensi sehingga alat dapat lebih cepat dilakukan perbaikan-perbaikan agar lebih sempurna. Mari kita berdoa agar alat laser ini segera diluncurkan, sehingga kemungkinan insiden CAT dapat lebih diminimalisir.

Ramadhan Nurpambudi
Ramadhan Nurpambudi

Penulis: Ramadhan Nurpambudi
Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung

Tinggalkan Komentar Anda