Ramadhan Nurpambudi: Hujan Lebat Menghantui Di Penghujung Juli

545
Ramadhan Nurpambudi: Hujan Lebat Mengahantui di Penghujung Juli
Ramadhan Nurpambudi: Hujan Lebat Mengahantui di Penghujung Juli. (Ilustrasi)

Sebatin.com – Hujan lebat kembali menghantui masyarakat Lampung menjelang penghujung bulan Juli kali ini. Adanya tekanan rendah di sebelah barat Lampung menjadi momok yang memicu banyaknya pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Lampung. Tekanan rendah ini akan menarik udara yang berada di sekitarnya sehingga akan terbentuk arus pemampatan atau yang lebih dikenal dengan konvergensi. Di sinilah akan terbentuk banyak awan yang dapat memicu terjadinya hujan lebat.

Kondisi ini tidak lepas dari kelembaban udara di wilayah Lampung yang cukup basah, dimana salah satu faktor pembentukan awan adalah kondisi atmosfer yang lembab. Kita patut bersyukur sebab di wilayah Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya memiliki kondisi atmosfer yang cukup kering sehingga pembentukan awan sangat kurang disana.

Dari pembelajaran yang telah dilakukan adanya tekanan rendah akan berdampak timbulnya potensi hujan lebat pada siang, malam, hingga dini hari dengan kondisi perawanan yang hampir memenuhi langit. Hujan lebat ini akan berlangsung kurang lebih 1-3 jam dengan intensitas yang lebat. Kondisi ini akan berpotensi terulang keesokan harinya dengan durasi kejadian kurang dari 1 jam.

Dari hasil analisa unsur meteorologi yang telah dilakukan, diprediksi hujan lebat banyak terjadi dalam beberapa hari kedepan. Analisa yang dilakukan dengan memantau gangguan cuaca skala regional dan juga skala lokal, keduanya mendukung akan potensi terjadinya cuaca buruk.

Tekanan Rendah

Salah satu penyebab utama banyaknya hujan lebat yang turun akhir-akhir ini adalah munculnya tekanan rendah di sebelah barat Pulau Sumatera. Tekanan udara merupakan berat atmosfer atau udara di atasnya persatuan luas atau berat sekolom udara di atasnya persatuan luas atau berat sekolom udara sampai batas atmosfer pada tiap satuan penampang. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan bumi, maka tekanan udaranya semakin kecil, karena jumlah molekul dan atom yang ada di atasnya berkurang. Sehingga, dapat dikatakan bahwa tekanan udara menurun terhadap ketinggian.

Suhu Muka Laut

Munculnya tekanan rendah didukung dengan suhu muka laut yang hangat di wilayah Sumatera. Hangatnya suhu muka laut mengindikasikan pasokan uap air yang berlimpah yang siap membentuk awan di atmosfer. Suhu muka laut juga memegang peranan penting banyak tidaknya pasokan awan di atmosfer sebab jika suhu muka laut rendah penguapan uap air di lautan akan sedikit.

Kelembaban Udara

Kondisi kelembaban atmosfer yang basah akan membuat uap air yang naik ke atas akibat proses konveksi menjadi awan-awan konvektif yang membawa banyak uap air. Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara atau atmosfer. Besaran yang sering dipakai untuk menyatakan kelembaban udara adalah persen (%). Udara yang suhunya lebih tinggi mempunyai kemampuan menyimpan uap air lebih banyak dibandingkan udara yang suhunya lebih rendah, karena di dalam udara yang suhunya rendah, uap air mudah mengembun kembali menjadi air.

Konvergensi

Konvergensi merupakan daerah pertemuan massa udara dan terjadi ketika adanya penambahan massa udara yang disebabkan arus udara yang berkumpul pada suatu daerah. Jika konvergensi ini terjadi secara terus menerus maka akan terjadi akumulasi massa udara pada daerah tersebut sehingga kerapatan udara menjadi naik. Pada daerah konvergensi identik dengan pertumbuhan awan. Tekanan rendah akan selalu diikuti dengan arus konvergensi, di sinilah tempat berkumpulnya massa udara dan identik dengan pola cuaca buruk.

Stabilitas Udara

Perubahan cuaca dari cerah tanpa awan menjadi berawan atau hujan terjadi bila terdapat gangguan. Udara yang stabil bila mendapat gangguan akan kembali ke kondisi semula, artinya tidak ada perubahan yang signifikan. Sebaliknya bila kondisi udara tidak stabil (labil), adanya gangguan akan mengakibatkan perubahan yang cukup berarti. Udara yang labil memungkinkan terbentuknya awan, khususnya awan yang mempunyai ukuran vertikal yang mencolok yang biasanya menimbulkan cuaca buruk. Labilitas udara didapatkan dengan pengamatan balon udara yang rutin dilakukan setiap harinya, pergerakan balon di udara akan memberikan gambaran bagaimana kondisi atmosfer pada saat pengamatan.

Kajian Cuaca Ekstrim

Penyebab utama bencana alam banjir di Indonesia adalah sistem cuaca ekstrim basah yang disebabkan oleh hujan konveksional, konvergensi dan pengaruh siklon tropis. Baik awan konveksi, awan konvergensi dan awan siklon tropis mempunyai sistem cuaca skala lokal dan meso atau makro yang dapat menyebabkan banjir skala lokal dan skala luas. Kebanyakan hujan konveksional terjadi setelah insolasi maksimum atau setelah tengah hari sampai malam hari. Hujan lebat dan sangat lebat dengan intensitas lebih dari 10 mm/jam lebih sering terjadi pada saat musim panas di Belahan Bumi Selatan atau musim hujan di Indonesia. Bencana banjir disebabkan oleh ketidakseimbangan antara inflow intensitas hujan yang lebih besar dari pada outflow evapotranspirasi, infiltrasi, dan limpasan, terutama jika drainase dan daerah resapan tidak berfungsi dengan baik.

Peringatan Dini

Kami dari BMKG selalu memberikan peringatan dini jika dalam pantauan akan terjadi potensi hujan lebat dan juga angin kencang yang dibroadcast melalui media sosial dan juga website. Kami mengaharapkan kerjasama dari seluruh instansi terkait agar lebih meningkatkan kewaspadaan di penghujung bulan Juli ini, sebab potensi cuaca buruk diperkirakan akan banyak terjadi.

Ramadhan Nurpambudi
Ramadhan Nurpambudi

Penulis: Ramadhan Nurpambudi
Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung

Tinggalkan Komentar Anda