Ramadhan Yang Membakar

837
Ramadhan Yang Membakar
Drs. Bambang Budiyanto, Penulis "Ramadhan Yang Membakar"

Sebatin.com – Berusaha memahami makna ramadhan dari berbagai tulisan ‘alim ‘ulama dan ahli tafsir yang bertaburan di ranah literatur, serasa tak pernah bosan membacanya. Tapi kali ini saya lebih tertarik mengulas satu sisi makna Ramadhan dalam arti “membakar” ketimbang makna lainnya. Bukan berarti mengesampingkan makna lain dari ramadhan, tapi mungkin pada konteks ini kecenderungan yang lebih tersedia pada diri saya untuk menulis.

Tulisan ini tidak dimaksudkan mencari definisi atau arti kata baru dari makna ramadhan, melainkan keinginan mendialogkan kekaguman saya akan arti “membakar” sebagai nisbah dari kata “ramadhan” di satu fihak dengan realitas kehidupan masyarakat di fihak lain yang ternyata ditemukan banyak fakta menarik, setidaknya menurut pandangan sempit saya pribadi.

Menjadi lebih menarik lagi ketika Allah SWT sendiri menyebut nama bulan yang di dalamnya terdapat permulaan diturunkannya Al-qur’an dan perintah puasa itu sebagai bulan ramadhan seperti dijelaskan dalam firman-Nya :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. 2 :185)

Akan halnya kehendak Allah memilih kata ramadhan sebagai nama bulan, wajib diyakini bahwa ini bukan pilihan iseng atau kebetulan semata, sebab bagi Allah apapun kejadian di muka bumi langit seisinya, tak ada yang kebetulan. Coba kita telaah arti firman Allah berikut :

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. 6 : 59)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah tak pernah iseng sedikitpun dalam menciptakan sistem tata kosmos dengan segala renik pernik proses organisnya, bahkan tentang basah dan keringnya sesuatupun terjadi atas kehendakNya. Apalagi jika itu menyangkut nama bulan mulia yang sedianya dijadikan sebagai “Kawah Candradimuka” pembentuk pribadi muttaqin, pastilah bukan sebuah kebetulan.

Pertanyaannya adalah “Rahasia apakah yang Allah kehendaki memilih kata ramadhan (membakar) bagi nama bulan yang didalamnya dijanjikan limpahan rahmat dan ampunan-Nya itu?”

Tentu tulisan ini bukan porsinya untuk menjawab pertanyaan terkait kerahasiaan-Nya. Kalaupun saya paksakan menjawab mungkin arahnya lebih menelisik pada fakta-fakta empiris yang memang telah terjadi dalam kehidupan manusia sejak dahulu kala. Selebihnya, tulisan ini hanya harus saya rampungkan agar bisa segera dihidangkan kepada para pembaca budiman.

Fakta Kauniyah kunci pembuka memahami maksud Ayat Qouliyah

Hamparan fakta kauniyah dengan segala proses fisika dan kimiawinya sengaja Allah sediakan agar manusia dapat mengambil manfaat dan ibrah (pelajaran) bagi dirinya. Tapi kebanyakan manusia hanya bisa mengambil manfaat (baca merusak) tanpa pernah belajar menyelaraskan maunya dengan kehendak Allah, sehingga pada gilirannya terjadi disharmonisasi kehidupan yang justeru menyiksa manusia itu sendiri. Allah berfirman:

“Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (43:76)

Fakta bahwa alam telah banyak memberikan pelajaran yang (jika manusia mau) dapat menghantarkan dirinya pada kefahaman akan kebesaran dan kehendak Allah, adalah fenomena yang tak mungkin dibantah lagi. Dus kejadian duniawi merupakan bagian tak terpisahkan dari proses ukhrowi secara universal. Artinya jika manusia mau lebih detil memahami proses alam, baik fisika, kimia maupun proses organis lainnya, maka sangat bisa jadi akan mudah pula memahami makna wahyu, utamanya pada ayat-ayat yang secara tematik Allah telah jelas menyebutnya.

Sampai di sini, istilah ramadhan dalam arti “membakar” atau “panas terik yang membakar” menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam, agar kita bisa memahami maksud diperintahkan-Nya puasa dalam bulan ramadhan.

Fungsi panas dan pembakaran dibutuhkan di hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam banyak hal manusia telah mengerti manfaat pembakaran yang bisa difungsikan untuk merubah apa saja sesuai kebutuhannya. Dengan proses pembakaran suatu zat bisa diubah dari fisika menjadi kimia atau sebaliknya. Intinya, pembakaran dapat difungsikan sebagai upaya peleburan, yang ini sudah sangat dikenal oleh manusia.

Sengaja Allah menggunakan istilah ramadhan (membakar) yang fungsinya sudah sangat dikenal manusia, tentu dimaksudkan agar manusia lebih mudah memahami dan menghayati tujuan diperintahkan puasa. Atas pengetahuannya bahwa panas dan pembakaran memang dibutuhkan untuk peleburan, maka panas dan keringnya tubuh saat menjalankan ibadah puasa, justeru kondisi yang sangat diharapkan demi terjadinya suatu peleburan. Bahwa pada akhirnya yang dilebur adalah dosa-dosa manusia, itu hak Allah untuk menentukannya. Yang pasti, “Ramadhan Yang Membakar” memang benar akan membakar dan meleburkan dosa, jika manusia sungguh menjalaninya. Dan Allah tak pernah ingkar janji. (Wallahu A’lam Bishawab)

Penulis: Drs. Bambang Budiyanto

Tinggalkan Komentar Anda