Rangsang Budaya Membaca Pada Anak, Anna Morinda Ngabuburit Baca Dongeng

384
Rangsang Budaya Membaca Pada Anak, Anna Morinda Ngabuburit Baca Dongeng 01
Kegiatan perdana Ngabuburit Baca Dongeng, di TPA Masjid Nurul Iman Kelurahan Tejoagung Metro Timur, Minggu (28/5/2017). Foto : Ade Embun - Sebatin.com

Sebatin.com, Kota Metro – Banyak cara yang dilakukan oleh umat muslim, untuk menanti dikumandangkannya adzan maghrib, sebagai tanda waktu berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Ada yang mengisinya dengan berjalan-jalan sembari berbelanja jajanan buka puasa, mendengarkan ceramah, mengaji, atau bahkan hanya dengan menonton televisi. Macam-macam aktivitas tersebut lebih dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia dengan sebutan “Ngabuburit”.

Seperti kebanyakan orang, Ketua DPRD Kota Metro Anna Morinda, memiliki konsep tersendiri dalam menunggu waktu berbuka puasa pada bulan Ramadhan 1438 H kali ini.

Bertujuan untuk merangsang kecintaan anak terhadap budaya membaca, Anna Morinda atau yang lebih akrab disebut Bu Non, mencoba mengajak anak-anak ngabuburit dengan cara berdongeng. Lokasi perdana dilaksanakan bersama anak-anak TPA Masjid Nurul Iman Kelurahan Tejoagung Metro Timur, Minggu (28/5/2017). Uniknya meski perdana dilakukan, antusiasme anak-anak cukup tinggi dalam mendengarkan cerita.

“Gak kerasa loh. Tahu-tahu sudah mau buka saja. Ternyata di luar ekspetasi, fun, adik-adik juga begitu semangat, cobain deh. Kapan-kapan teman-teman jurnalis juga ikutan ngedongeng dong !. Dan mudah-mudahan kegiatan ini dapat menjadi budaya pada tahun-tahun mendatang. Sesuai dengan visi misi Kota Metro sebagai Kota Pendidikan”, ujarnya.

Rangsang Budaya Membaca Pada Anak, Anna Morinda Ngabuburit Baca Dongeng 02
Siswa-siswi TPA Masjid Nurul Iman Kelurahan Tejoagung Metro Timur, tampak antusias mendengarkan dongeng. Foto : Ade Embun – Sebatin.com

Dalam kegiatan perdana tersebut, sekitar 50 anak sangat antusias mendengarkan dongeng yang dibacakan oleh bunda Ekowati dengan teman Kebhinnekaan dan menjaga NKRI. Dalam cerita tersebut, perbedaan digambarkan dengan cara yang ringan, yaitu dengan memakai tokoh bermacam-macam burung yang memiliki perbedaan warna, suara, dan bentuk.

“Ada burung merak, burung pipit, dan burung gagak. Ketiganya merasa yang paling bagus dan baik. Saling menyombongkan keindahan warna bulu, suara, dan rupa. Tidak ada yang mau mengalah”, urai bunda Ekowati.

Akhirnya, ketiganya sepakat untuk mencari siapa yang paling bagus dan paling hebat dengan menggelar perlombaan. Dan disepakati oleh semuannya, burung Cendrawasih yang menjadi juri.

“Hayo siapa yang tahu dari mana asal burung Cendrawasih?”, serunya.”Papua Nugini bu, bukan Irianjaya bu”, jawab anak-anak.

Rangsang Budaya Membaca Pada Anak, Anna Morinda Ngabuburit Baca Dongeng 03
Bunda Ekowati sedang berdongeng dengan teman Kebhinnekaan dan menjaga NKRI di depan anak-anak TPA Masjid Nurul Iman Kelurahan Tejoagung Metro Timur. Foto : Ade Embun – Sebatin.com

Singkat cerita, tidak ada hasil apapun yang didapat dari perlombaan tersebut. Masing-masing burung ternyata memiliki kekurangan dan kelebihan.

“Nah, intisari dari cerita burung merak, pipit, dan gagak ini adalah, kita terdiri dari berbagai suku dan budaya. Berbeda warna kulit, putih, coklat, hitam. Besar, kecil, tinggi, pendek. Kita memang berbeda-beda. Tetapi kita tinggal di negara yang sama, yang menjadikan kita semua bersaudara. Karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kesatuan dan persatuan RI”, tutupnya.

(Ade Embun)

Tinggalkan Komentar Anda