Realisasi Pelaksanaan Dana Desa di Tiyuh Dwi Kora di Duga Tak Libatkan Masyarakat

21
Realisasi Pelaksanaan Dana Desa di Tiyuh Dwi Kora di Duga Tak Libatkan Masyarakat 01
Lokasi realisasi pelaksanaan DD di Tiyuh Dwi Kora, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat, beruoa pembangunan Infrastruktur Drainase, yang di duga tak memasang papan informasi pekerjaan.

Sebatin.com, Tubabar – Padat Karya Tunai di Desa (PKTD) merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang di selenggarakan oleh Pemerintah Pusat guna untuk mengurangi tingkat penggangguran, khususnya bagi kalangan yang miskin dan marginal yang bersifat produktif, dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya, tenaga kerja, dan teknologi lokal untuk memberikan tambahan upah/pendapatan, meningkatkan daya beli, mengurangi kemiskinan, dan sekaligus mendukung penurunan angka stunting. Program ini merupaka arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia, yang dilaksanakan untuk seluruh desa di Indonesia.

Hal itu merujuk kepada Keputusan bersama (SKB) 4 Menteri yakni Menteri PPN/Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dalam Diktum (1) angka (6) huruf (c) di katakan fasilitasi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan pembangunan Desa paling sedikit 30% (tiga puluh persen) wajib digunakan untuk membayar upah masyarakat dalam rangka menciptakan lapangan kerja di Desa.

Namun sayangnya apa yang menjadi program arahan langsung dari Presiden tersebut masih saja tidak di patuhi oleh segelintir oknum dan diduga adanya program malah di jadikan ajang mencari keuntungan.

Seperti halnya yang terjadi di Tiyuh Dwi Kora, Kecamatan Gunung Agung, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Program padat karya untuk pembuatan badan jalan sepanjang dua ribu dua ratus lima puluh meter di kerjakan oleh bantuan alat berat itu, di duga tanpa melibatkan masyarakat.

Realisasi Pelaksanaan Dana Desa di Tiyuh Dwi Kora di Duga Tak Libatkan Masyarakat 02
Bendahara Tiyuh Dwi Kora, Naryo saat di konfirmasi media di lokasi pembangunan Dreinase, Sabtu (01/12/18).

Selain itu, saat di konfirmasi, Sabtu (01/12/18), Kepalo Tiyuh Dwi Kora, Parmin, yang di dampingi Naryo selaku Bendahara tiuh megakui tentang adanya penggunaan alat berat.

“Benar untuk padat karyanya kita memakai alat berat karena untuk menggali, itu kan kita buat badan jalan dengan lebar tiga meter dan panjang dua ribu dua ratus lima puluh meter, akan tetapi ada masyarakat juga mas,” ucap nya.

Sementara saat disinggung terkait program padat karya yang menggunakan jasa alat berat, Naryo menyangkal dengan alasan jika di kerjakan dengan tangan manusia maka kerjaan itu tidak akan selesai dikarenakan tingkat kesulitan yang berbeda.

“Mana bisa lah mas, tentu warga juga nggak mau dan kapan akan selesai nya jika dikerjakan oleh tangan manusia langsung tanpa dibantu alat berat,” kilah Naryo.

Tidak hanya itu, kejanggalan lainnyapun terlihat pada saat awak media turun langsung ke lokasi pembangunan Drainase di tiyuh setempat yang tidak menggunakan papan informasi kegiatan pembangunan.

Hal tersebut pada saat di pertanyakan kepada bendahara tiyuh setempat, Naryo mengatakan papan informasi yang di buat dari bahan banner belum di ambil dari percetakan.

“Papan informasi nya maka belum di pasang karena masih di percetakan di Unit Dua mas,” kilah Naryo.

Terpisah, Sekretaris Tiyuh Dwi Kora, Karim saat di konfirmasi via Whatsapp terkait hal yang sama. Karim dengan lantang mengatakan semua kegiatan sudah ada papan informasi di masing-masing titik lokasi.

“Kalau papan informasi sudah kami pasang semua di setiap titik pekerjaan salah satu contoh pengerjaan taman itu ada papan informasinya,” ucap Karim. (Tim/RB)

Tinggalkan Komentar Anda