Rendah Hati Untuk Sebuah Kemuliaan

215
Rendah Hati Untuk Sebuah Kemuliaan
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan rupa dan sifat yang beraneka ragam. Luar biasa, dari jutaan manusia hanya segelitir orang saja yang rupanya sedikit mirip satu sama lain. Demikian juga dengan sifat manusia. Semuanya diciptakan berpasang-pasangan. Selalu ada dua. Ada yang baik ada yang buruk. Ada positif dan ada pula negatif.

Di zaman yang semakin global, suatu tempat tak lagi bisa murni bersih seperti sedia kala. Budaya-budaya kota bahkan luar negeri tak bisa ditolak untuk masuk ke lingkungan kita. Oleh sebab itu, sikap toleransi harus dijunjung tinggi. Kita harus bersedia memahami dan mengerti karakter masing-masing orang.

Salah satu sikap yang bisa digunakan dan bermanfaat dalam menghadapi masyarakat yang semakin global ini ialah rendah hati.

Menurut KBBI, rendah hati adalah hal (sifat) tidak sombong atau tidak angkuh. Singkatnya, lawan kata dari sombong ataupun tinggi hati.

Merendah bukan berarti derajat dan diri kita akan menjadi rendah. Tidak seperti itu. Sejatinya, dengan merendah seseorang justeru menjadi mulia. Bukan hanya di hadapan Tuhan, tapi juga di hadapan sesama manusia.

Merendah membuat hati menjadi tenang, tentram, dan damai. Merendah membuat keegoisan ataupun emosi untuk marah menjadi berkurang. Itulah sebabnya orang yang bisa merendah ialah orang yang mulia. Hanya orang yang pintar, termasuk juga pintar dalam menguasi dirilah yang bisa merendah. Sementara orang yang pintar tak jarang ditinggikan dan dianggap mulia atau dimuliakan.

Merendah membuat hubungan kepada siapapun menjadi baik, termasuk kepada Tuhan. Terlebih lagi kepada sesama manusia. Orang-orang akan nyaman berdekat-berdekatan dengan orang yang senantiasa merendah. Sebaliknya, orang-orang akan jengah, kesal dan jengkel melihat orang yang tinggi hati, sombong, ataupun angkuh.

Apabila ada orang yang merendahkan kita setelah kita merendah, ataupun meninggikan dirinya di depan orang-orang banyak sementara kita merendah. Tidak masalah. Tak perlu tiba-tiba berubah menjadi orang yang sombong dan tinggi hati pula. Semua melihat, semua bisa merasakan, termasuk Tuhan: siapa yang mulia sesungguhnya. (Al Hadeed)

Tinggalkan Komentar Anda