SMS Singkat Sebagai Jembatan Menjelajahi Turki

268
SMS Singkat Sebagai Jembatan Menjelajahi Turki
Library of Celsus, Turki.

Sebatin.com – “Kamu itu orang Palembang, Sumatera Selatan. Wong Palembang saja tidak kamu promosikan, ini sok-sokan mau mempromosikan Bengkulu!” cibir kakak saya suatu hari.

Saya cuma bisa diam, tak memedulikannya. Sebagai orang dari provinsi luar, tentunya saya tidak tahu apa-apa tentang Bengkulu. Ya, kecuali tentang Bunga Rafflesia, sejarah Bung Karno, Pantai Panjang, dan beberapa hal terkenal lainnya. Itupun hanya tau sedikit saja.

Di zaman yang modern seperti ini dan dengan pengetahuan yang sangat dangkal, tentunya internetlah yang menjadi andalan. Saya dituntut untuk membuat kultweet (kuliah twitter) di media sosial Twitter. Kultweet ini memang sedang rame-ramenya di Twitter. Secara singkatnya, kultweet itu adalah status di twitter yang dibuat berkali-kali dengan membahas satu topik. Dalam hal ini, saya diminta untuk membahas tiga tema besar tentang Bengkulu dalam waktu satu bulan setengah. Lima belas hari pertama diminta mengulas tentang Kebudayaan Bengkulu, lima belas hari selanjutnya tentang Pariwisata Bengkulu, dan lima belas hari terakhir tentang Kuliner Bengkulu. Kami diminta mengulas sebanyak-banyaknya dan sedalam mungkin. Setiap kultweet diminta sebanyak dua puluh lima tweet.

Dengan berbagai kesibukan lainnya, saya selalu menyempatkan membuat kultweet tersebut. Bagi saya, itu sudah menjadi sebuah kewajiban. Mau tidak mau, ya, harus dikerjakan. Di akun Twitter saya, yakni @itshadeed, di sana banyak sekali ulasan tentang Bengkulu. Lebih tepatnya, tentang kecantikan atau keluar biasaan Bengkulu.

Tut … tut … Saya melihat hape saya, ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal. Saya buka;

“Salam. Kami dari Media Center Pemprov Bengkulu mau memberitahukan jika Anda masuk nominasi pada lomba esai popular. Selanjutnya adalah aktif di Twitter untuk memperebutkan lima belas besar yang akan diberangkatkan ke Eropa. Terima kasih.”

Great! What is this mean?

Saya langsung menelpon nomor tak dikenal tersebut untuk menanyakan maksud dari bunya SMS itu. Dijelaskan, lalu saya paham.

Seketika ingatanku terbang tinggi. Saya langsung ingat, beberapa bulan sebelumnya saya mengikuti acara PIRN LIPI 2016 di Bengkulu. Saat itu, saat pembukaan acara yang dibuka langsung oleh Gubernur Bengkulu, Bapak Ridwan Mukti, beliau mengatakan kalau ia akan mencari lima belas Duta Bengkulu dari Provinsi luar. Di antara ratusan orang, saya duduk di barisan agak belakang. Diam-diam saya mencetuskan pada diri saya sendiri dalam hati. Saya harus masuk dalam lima belas itu! Saya harus menang!. Saya buka sedikit rahasia, itulah trik saya untuk meraih mimpi saya. Saya selalu mencetuskan pada diri saya sendiri. Telah beberapa kali saya melakukan hal itu dan berhasil! Salah satunya saat saya menginginkan menang di Lomba Menulis Tingkat Nasional, dan benar, akhirnya saya menang. Ya, mungkin di saat itu malaikat mendengar dan didoakan olehnya. Atau bisa juga memang rezekinya. Namun, saya akan terus melakukannya, saya anggap hal tersebut sebagai lecutan dalam meraih apa yang saya inginkan.

Untuk menang, masuk ke dalam lima belas besar Duta Bengkulu tersebut, harus membuat sebuah esai dengan tema besar yang cukup mencolok dan menarik, bagi saya: DARI BENGKULU UNTUK INDONESIA. Selain itu, para peserta pun diharuskan membuat video yang isinya sambil membacakan esai tersebut, lalu diunggah ke Youtube. Saya pernah mendengar, orang sukses adalah mereka yang pintar memanfaatkan peluang. Tunggu apa lagi? Take it! Be your mine! Kataku pada diriku sendiri.

Lucu sekali, saya ini memang orangnya sedikit ceroboh. Lebih tepatnya, kurang teliti. Di saat deadline, yakni di suatu pagi, saya mengumpulkan esai saya dengan flashdisk yang filenya tidak saya bubuhi profil saya. Kacau semuanya! Kataku saat itu. Eh, ternyata pengumuman pemenangnya diundur karena sebuah kendala beberapa bulan setelah acara. Dan juga, para peserta lainnya yang belum mengumpulkan, diperbolehkan mengirimkan karyanya melalui email. Saya tidak menghiraukannya lagi, saya pikir saya sudah. Saya mengetahui kalau di esai saya tersebut tidak ada identitas saya setelah saya di rumah dan waktu pengiriman karya melalui email sudah ditutup.

Ya, terserahlah. Kalau rezeki pasti dapat. Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah mengedit videoku yang ada di Youtube. Di sana, saya tambahkan identitas saya. Ya, satu-satunya cara.

Benar sekali! kalau memang rezeki ya tentunya pasti akan sampai kepada kita. Saya mendapatkan sms, lalu mengerjakan perintahnya dengan sungguh-sungguh. Berjuang sepenuh hati.

Ramai pesan di grup Whatsapp Nominator Duta Bengkulu. Kata Alhamdulillah dan terima kasih sudah banyak sekali bertebaran di sana. Di atasnya saya lihat ada link bertuliskan Pemenang Duta Bengkulu.

Saya tarik nafas. Hatiku sedikit bergetar, rasanya tidak berani membuka pengumumannya. Ada dua puluh enam nominator dan akan diambil lima belas. Berarti menyisihkan sembilan orang. apapun itu, saya beranikan mengklik link tersebut. Namun, hapenya saya lemparkan jauh dari saya ke atas tempat tidur. Tapi akhirnya saya baca juga pengumuman itu.

And finally, I got it!

Saya berhasil memenangi pemilihan Duta Bengkulu, menjadi satu dari lima belas Duta Bengkulu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Hasil takkan mengkhianati usaha! Tepat sekali. Saya membuat esai itu di sore hari dan selesai sekitar pukul delapan malam. Dengan tidak kurang dari tiga puluh referensi dari berbagai blog tentang Bengkulu dari google. Dan saya membuat videonya di tengah malam, sekitar jam satu sampai jam dua malam. Sebab, paginya sudah harus dikumpul.

Meskipun kompetitiornya banyak sekali, kurang lebih lima ratus orang, tapi jika memang hal tersebut ditakdirkan untuk kita. Maka kita akan mendapatkannya. Tak peduli betapa kerasnya orang lain merebutnya. Mereka takkan berhasil.

Penulis: Al Hadeed

Tinggalkan Komentar Anda