Suparwan, Penyulap Tunggak Kayu Jadi Karya Seni Berdaya Jual Tinggi

59
Suparwan,-Penyulap-Tunggak-Kayu-Jadi-Karya-Seni-Berdaya-Jual-Tinggi-01
Suparwan, di bengkel kerjanya, di Pekon Bandung Baru Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu. Foto : Sanusi

Sebatin,com, Pringsewu – Tunggak kayu, atau pangkal pohon dari sisa penebangan, kebanyakan hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar, atau dijadikan sebagai salah satu bahan baku untuk membuat arang. Hal tersebut terjadi, karena masih kurangnya keterampilan dan pengetahuan sebagian masyarakat dalam bidang seni dan kepekaan akan kebutuhan pasar.

Seperti sering kita jumpai , tunggak-tunggak kayu yang sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun, hanya tergeletak di pinggir-pinggir sungai, bahkan terpendam dalam lumpur sampai busuk termakan usia. Padahal, hanya dengan sedikit keuletan dan sentuhan imajinasi seni, tunggak –tunggak kayu tersebut dapat disulap menjadi barang antik yang memiliki nilai seni dan jual yang cukup tinggi.

Namun, tidak dengan pemikiran Suparwan, salah seorang pengrajin tunggak kayu dari Pekon Bandung Baru Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, yang memperlakukan tunggak-tunggak kayu tersebut seperti halnya sebuah harta karun. Saat di temui sebatin,com di bengkel kerjanya, Suparwan mengatakan, “Saya tertarik menggeluti bisnis ini, karena bisnis ini termasuk masih jarang dilakukan orang, dan hasilnya pasti beda dengan perusahaan meubeler yang sudah menjamur”.

Suparwan,-Penyulap-Tunggak-Kayu-Jadi-Karya-Seni-Berdaya-Jual-Tinggi-02
Suparwan bersama rekan kerjanya saat menyulap tunggak-tunggak kayu menjadi karya seni berdaya jual tinggi. Foto : Sanusi.

“Tunggak kayu punya nilai seni tersendiri, tanpa harus merubah bentuk aslinya, tunggak kayu itu kita fungsikan sebagai kaki-kaki meja, kemudian diatasnya kita letakkan lempengan kayu tebal, kira-kira 10 cm, yang berfungsi sebagai alas meja, setelah terlihat bentuknya, baru kemudian dilakukan perapihan, dengan cara di amplas sampai halus, kemudian diberi pelapis transparan, supaya gurat kayu tetap terlihat”, terang Suparwan, Kamis (01/02/2018).

Sampai saat ini, Suparwan bersama beberapa temannya telah menghasilkan puluhan karya seni tunggak kayu, yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi sehingga mampu menopang perekonomian keluarga masing-masing pekerja. “Harganya ya bervariasi Mas, tergantung bentuk keunikan karya tersebut, ada yang 2 juta, 3 juta,6 juta, bahkan ada yang mencapai 7 juta rupiah”, terangnya.

“Alhamdulillah, baru-baru ini, kita melakukan pengiriman 5 unit meja hias dengan harga yang bervariasi, untuk pesanan dari konsumen di Bandar Lampung”, aku Suparwan.

Lanjutnya, untuk mendapatkan tunggak-tunggak kayu tersebut, Suparwan lebih senang, dan lebih sering melakukan perjalanan hingga ke Kabupaten Lampung Barat, menurutnya kayu-kayu diwilayah tersebut lebih berkelas (keras, red), serta masih banyak dapat dijumpai.

(Sanusi)
Editor : Ade Embun

Tinggalkan Komentar Anda