Tantangan Tata Ruang Terhadap Peradaban Berbangsa Di Indonesia

351
Penulis : Fariz Rifqi Ihsan, ST, M. Si

Perencanaan dan pengembangan ruang menjadi aspek vital kehidupan umat manusia dan dengan demikian pembangunan dan pemanfaatan ruang telah menjadi salah satu usaha dalam memperbaiki sebuah peradaban manusia. Seiring dengan itu, hal tersebut dapat dilihat dari pengembangan pemukiman manusia dari sekelompok rumah dalam sebuah wilayah yang telah berkembang seiring peradaban manusia itu sendiri. Hal tersebut ditunjukan pada akhir Zaman Batu dan di awal zaman logam di dunia, peradaban manusia telah dibangun di sepanjang lembah sungai.

Pada perkembangannya, perencanaan tata ruang hari ini sebenarnya telah memiliki  konsep pendekatan sistem, kemitraan, keterbukaan, pemberdaayaan masyarakat, pemerintahaan yang baik  (good goverment), akuntabilitas, keberlanjutan, dan sebagainya, akan tetapi pada kenyataanya penggunaan dan pemanfaatan tata ruang di Indonesia belum membentuk sebuah peradaban yang baik bagi bangsa Indonesia. Terlebih penggunaan dan pemanfaatan tata ruang di Indonesia lebih cocok kalau saya sebut sebagai “Human zoo”  yang memiliki sifat sporadis yang dapat mensengsarakan umat manusia. Hal ini tentunya  juga tidak didukung perencaanaan ruang yang tidak memiliki memiliki visi yang jelas , dalam artian tidak mengungkap sebuah potensi unggulan maupun pokok yang di hadapi manusia dalam suatu wilayah terlebih terhadap sebuah bangsa.

Tantangan Peradaban Berbangsa.

Konsep Negara-bangsa seperti di Indonesia berlandaskan terutama sekali pada tolak ukur etnis , kebudayaan,dan wilayah, yang tentunya semuanya bersifat plurar. Akan tetapi pada perkembangannya ahir-ahir ini rakyat Indonesia terfragmentasi oleh hal-hal diatas. Oleh karena itu saya mencoba menjabarkan sebuah fragmentasi social pada rakyat Indonesia melalui indicator tata ruang yang telah terjadi di Indonesia yang ditandai ekslusifitas ruang.

Keberadaan arus modal atau capital yang tinggi di Indonesia telah merubah landscape ruang di negara ini. Kepemilikan ruang dalam hal ini lepemilikan lahan  banyak sekali dikuasai oleh pemilik-pemilik modal. Dari sinilah banyak sekali munculnya kesenjangan ruang yang ditandai hunian-hunian elit yang di isi oleh orang-orang kaya.  Tentunya keberadaan hunian elit atau gedung-gedung pencakar langit mengaleniasi masyarakat-masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Terlebih adanya hal tersebut memunculkan kecemburuan social dengan adanya pembatas-pembatas fisik seperti gerbang, pagar, bahkan tembok yang membatasi interaksi warga antara si kaya dan si miskin.

Disisi lain adanya fenomena pengerasan identitas akibat dari strategi pemasaran dalam menumpuk keuntungan. Dimasukkannya konsep agama dalam persaingan dunia properti Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1995. Dari beberapa iklan serta artikel yang diamati, lokasi berdirinya perumahan-perumahan muslim ini bervariasi, mulai dari Jakarta, Yogya, Semarang, Palembang sampai Kalimantan.  Hal tersebut dikarenakan kebutuhan akan Lingkungan yang homogen yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya untuk melaksanakan kegiatan kelompoknya  tentunya hal ini dapat memancing kecemburuan dari pihak agama lain. Sehingga dapat menimbulkan ketegangan agama yang bersifat terus menerus.

Saat ini kita memang pantas merasa malu sebagai bangsa yang pernah besar di zaman  Soekarno-Hatta. Semua itu akibat perkembangan premodialisme yang sempit, dengan pemikiran yang terkotak-kotak , hanya memikirkan kepentingan kelompok, golongan , atau bahkan kepentingan sendiri dalam waktu sesaat. Oleh karena itu dalam merencanakan ruang kita seharusnya selalu ditunutut untuk  adanya Tolerance, Intergrity, Trust, dan Spirit of Unity (TITS) dengan selalu mempertimbangkan jauh kedepan untuk the next Generation.

Dengan adanya ketegangan spasial yang berujung pada ketengan social diatas mendesak bagi perencana ruang dan pemerintah untuk menciptakan ruang public yang inklusif. Dalam merencanaakan ruang kita harus memegang prinsip rekonsiliasi  dan konsensus bersama dalam meneruskan sebuah perdaban bangsa terlebih terhadap pembangunan nasional yang merakyat. Dalam artian pembangunan nasional yang merakyat adalah tidak menyingkirkan rakyat dalam merumuskan aturan main bersama dalam menciptakan ruang bersama.

Lebih lanjut, mengenai konsensus  dalam membentuk ruang bersama dalam pembangunan dan memanfaatkan  ruang, paling tidak ada tiga macam konsesnsus: Pertama, dalam tataran konsep, ide , gagasan dan pemikiran. Kedua,dalam tataran Komunikasi, perkataan, perbincangann, diskusi dan dialog. Ketiga, dalam tataran sikap, tindakan, serta aksi perbuatan. Sehingga  dari hal tersebut dapat menciptakan suasana kegotong-royongan dalam merencanakan dan menggunakan ruang.

Saat ini kita betul-betul sudah sangat memerlukan rekonsiliasi konflik, perumusan konsensus, dan penggalangan upaya dalam meneguhkan komitmen memajukan peradaban bangsa dengan penuh ketulusan . Dan yang paling penting adalah menangkal  gejala premodialisme sempit agar tidak kian merebak. Bila hal-hal tersebut tidak segera ditangkal, benih-benih perpecahan kian tumbuh dengan subur di negeri kita.

Penulis : Fariz Rifqi Ihsan, ST, M. Si
Penulis merupakan pemerhati tata ruang dan wilayah serta Demisinoner Presidium GMNI 2015-2017

Tinggalkan Komentar Anda