Tegas, Mahfud MD Tolak Pemikiran Khilafah Felix Siauw

904
Ahli Hukum Tata Negara, Mahfud MD. Foto : Istimewa

Sebatin.com, Jakarta – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, menolak pendapat Felix Siauw tentang Khilafah.

Felix mempertanyakan kenapa ideologi khilafah di sebuah acara yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta pada, Selasa (5/12) Malam. Menurutnya, apabila ideologi tersebut dilarang, maka penyebutan empat orang khalifah dalam salat terawih harus dihapus juga.

“Khilafah adalah prinsip pengolahan alam semesta yang diamanahkan Allah kepada manusia,” katanya.

Menanggapi hal itu, Mahfud mempunyai pendapat yang berbeda. Ahli Hukum Tata Negara asli Madura ini mengatakan, khalifah yang dikampanyekan Front Pembela Islam (FPI) dan juga Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) konteksnya bukan sekedar tataran gagasan, lebih dari itu organisasi tersebut berbicara khilafah masuk dalam sistem pemerintahan.

“Itu (khilafah untuk sistem pemerintahan) ideologi yang bertentangan. Upaya mengganti sebuah sistem yang sudah disepakati jelas itu gerakan terlarang,” ucap Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) ini.
Mahfud juga menyebutkan bahwa dirinya telah mempelajari apa khilafah yang diperjuangkan HTI. Menurutnya, HTI tidak bisa mengelak bahwa yang mereka perjuangkan merupakan khilafah dalam sistem pemerintahan.
“HTI itu bilang pemerintahan itu thoghut (berhala/sesembahan). HTI juga menolak ide kebangsaan, mereka ingin transnasional. Itu tak dibantah oleh mereka, ini jelas berbahaya sebagai sebuah bangsa,” kata Mahfud.

Bahkan dari sisi agama, mantan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengaku, dari berbagai sumber ia tidak menemukan konsep khilafah sebagai sistem pemerintahan. Bahkan, dirinya mengaku siap berdebat kapan saja.

“Kalau sebutan khilafah untuk pemimpin iya (ada), tapi tak ada sebagai sistem, khilafah itu macam-macam,” jelasnya.
Pancasila menurut Mahfud sudah tepat untuk digunakan di Indonesia. Apabila digali lebih dalam, katanya, Pancasila adalah khilafah dalam konteks atau khas Indonesia.

“[Tapi] Gerakan khilafah sebagai alternatif ideologi itu berbahaya,” tuturnya.

Sumber : Viva
Editor    : Addarori Ibnu Wardi

Tinggalkan Komentar Anda