Wawancara Imajiner Dengan Ahok (4)

222
Wawancara Imajiner Dengan Ahok (4)
Cak Bambang (kiri) Ahok (kanan).

“Kembali pak Ahok meneguk air putih di sebelahnya. Selintas pandanganku menyapu wajah beliau. Tak ada gurat sedih sedikitpun di wajahnya. Air mukanya menyiratkan mental bapak dua anak ini begitu teguh. Bahasa tubuhnya mengisaratkan bahwa dirinya telah menyadari segala resiko dan akibat sikap yang diambilnya. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya merasa iba, hati kecilku berbisik bagaimanapun dan setegar apapun pak Ahok, tetaplah manusia biasa yang punya rasa sedih, rindu, jengkel, kecewa seperti manusia lain. Dua tahun dipaksa pisah dengan orang-orang yang dikasihi, tentu bukan perkara mudah. Butuh kontemplasi yang paripurna untuk menghadirkan keyakinan bahwa “Gusti Mboten Sare”. Butuh hati yang “sumeleh” agar Tuhan berpihak dan segera memberi tebusan sesuai janji-Nya”.

Ahok : Sekarang kalau di balik, misalnya saya yang ucap salam ke mas Bambang boleh enggak ? Soalnya saya sering dengar katanya orang Islam tidak boleh menjawab salam dari selain Islam. Atau jika terpaksa, boleh dijawab dengan kata “Wa’alaika”. Bagaimana menurut mas Bambang ?

Saya : Ya boleh saja diucapkan. Syaratnya cuma satu, jika pak Ahok tidak sedang nyalon Pilkada hehehe, guyon pak, biar fresh lagi. Oke serius pak. Prinsipnya tetap pada makna ucapan salam itu do’a keselamatan. Siapapun yang mendoakan keselamatan atas diri saya, tentu saya akan dengan senang hati menerimanya. Tak perduli itu datang dari siapa, termasuk salam dari pak Ahok, pasti saya jawab Wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuhu. Terlalu pelit kalau saya hanya balas dengan jawaban “Wa’alaika”. Sebab yang akan memberi keselamatan bukan saya atau pak Ahok, tapi Tuhan sendiri. Jadi tak ada alasan untuk pelit sekedar membalas salam.

Ahok : Wah kalau semua orang berpandangan seperti mas Bambang adem dunia ini. Tapi persoalannya berapa persen orang yang berfikir seperti itu ? tidak banyak dan belum bisa mewarnai atmosfir besar yang berlaku secara umum di Indonesia. Saya sendiri lebih cocok dengan pandangan toleran seperti yang mas Bambang uraikan. Sebab prinsip utama agama saya juga menabur kasih sayang. Apa yang saya lakukan hanya demi mengharap kasih Tuhan, kira kira begitu.

Saya : Dunia ini memang tidak harus adem pak. Baik dan buruk itu sudah menjadi hukum alam dan akan selalu berseberangan sampai kapanpun, saya yakin pak Ahok paham ini. Tuhan sendiri sudah berfirman bahwa jika Dia mau, seluruh isi dunia ini bisa dijadikan baik. Lantas kenapa Tuhan tidak berbuat demikian ? Ya karena baik buruk itu sebuah nilai banding. Kebaikan akan kehilang nilai tanpa diuji oleh keburukan dan keburukan akan kehilangan fungsi tanpa nilai kebaikan. Jadi kalau menurut saya, tidak usah terlalu dipikirkan seberapa banyak orang respek dengan pandangan saya, karena sesungguhnya ini hanya pandangan pribadi saya. Yang terpenting pak Ahok harus tetap yakin bahwa di Indonesia ini masih lebih banyak manusia toleran ketimbang yang intoleran, meskipun tidak selalu dalam konteks menjawab salam. Saya rasa soal menjawab salam bisa kita sudahi sampai disini pak, saya yakin pak Ahok sudah memahami substansi jawaban saya.

Ahok : Oke kita sudahi dulu urusan salam, hehe. Asyik tak terasa hampir 2 jam kita ngobrol. Lumayan gamblang jawaban mas Bambang, saya merasa ada pencerahan baru dari diskusi kita ini. Baiklah, mau gimana ini, istirahat atau lanjut dengan tema baru ?

Saya : Kalau saya si maunya lanjut, karena saya tidak bisa sering-sering kesini. Tapi terserah pak Ahok selaku tuan rumah, saya ikut saja. Hanya jika mau dilanjut ada satu syarat, berikan kesempatan kepada saya untuk gantian bertanya kepada pak Ahok, dan harus pak Ahok jawab, tidak boleh nolak.

Ahok : Saya tahu pasti mas bambang mau menanyakan soal soal politik, hehehe. Okelah, sebagai wujud terima kasih dan penghargaan saya atas kunjungan mas Bambang ke sini, silahkan bertanya apa saja. Kalau saya bisa jawab akan saya jawab sejujur-jujurnya, dengan satu syarat, jangan menanyakan hal-hal sensitif menyangkut SARA, takut hukuman saya tambah lama nati hahaha. Enggak, enggak ini humor aja biar fresh seperti kata mas Bambang. Mari kita mulai diskusi lagi

Saya : Semenjak berangkat dari rumah, ada banyak pertanyaan berkecamuk dibenak saya, khususnya terkait musibah politik yang dialami pak Ahok. Saya sebut musibah karena saya yakin semua kejadian ini tidaklah dikehendaki oleh pak Ahok. Musibah itu menurut saya cara Tuhan memberi pelajaran terhadap hamba-Nya. Dalam perspektif negatif, musibah bisa dimaknai teguran atau peringatan dari Tuhan. Sementara perspektif positifnya, musibah adalah cara Tuhan untuk menaikkan kualitas hamba-Nya, supaya lebih siap menerima beban yang lebih besar berikutnya. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu pada sisi perspektif yang mana musibah ini bagi pak Ahok. Yang saya tahu, pak Ahok sudah berbuat yang terbaik untuk Jakarta dengan mengerahkan segala daya dan kemampuan. Bahwa kemudian terjadi musibah pada diri pak Ahok saya meyakini itu cara Tuhan menjadikan pak Ahok pemimpin besar di negeri ini. Itupun jika pak Ahok masih mau berpolitik. Maka pertanyaan saya, apakah pak Ahok menjadi jera akibat musibah ini ? Ataukah justeru lebih tertantang terjun di politik ?

(bersambung : Wawancara Imajiner Dengan Ahok (5))

Penulis : Bambang Budiyanto

Tinggalkan Komentar Anda