Wawancara Imajiner Dengan Ahok (6)

212
Wawancara Imajiner Dengan Ahok (6)
Bambang Budiyanto/Cak Bambang (kiri), ahok (kanan)

“Terlihat wajah pak Ahok sedikit berubah mimik. Apa mungkin tersinggung pertanyaanku yang terlalu ketus. Ternyata tidak, tak lama kemudian senyumnya mengembang dan merespon pertanyaan yang saya ajukan”

Ahok : hehehe mas Bambang ini pinter mancing-mancing masalah. Saya agak repot jawabnya. Kalau saya jawab, pasti pertanyaan berikutnya akan melebar kemana mana. Tapi kalau tidak dijawab saya kehilangan konsistensi yang sudah kita sepakati dalam pertemuan ini. Ada yang lebih repot lagi, kiriman bakpia berikutnya bisa lepas, hahaha. Guyon, guyon, jangan serius amat mas. Jadi begini, keputusan mencabut banding itu memang permintaan saya dan sudah saya pikirkan matang-matang sebelumnya. Sikap ini sama sekali tidak terkait pesimisme atau optimisme politik pribadi saya. Ini soal toleransi umat yang semestinya kita hormati bersama. Saya sangat sadar bahwa masyarakat sudah lelah, jenuh dengan kegaduhan berbulan-bulan hanya disebabkan soal politik. Saya ingin menghormati Bulan Ramadhan, saya ingin tidak ada caci maki di bulan suci ini. Biarkan umat menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Coba mas Bambang bayangkan kalau puasa puasa ada demo, apa yang akan terjadi ?

Saya : Ya pasti akan menjadi sangat krusial. Apalagi jika situasi itu dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin Indonesia ini hancur, bisa jadi demo Romadhon akan berujung kerusuhan dan caos. Wah, wah pertimbangan yang tepat dan jitu pak. Sebab jika kondusifitas Ramadhan terganggu akan sangat mudah diplintir dan menjadi bola liar yang sulit dikendalikan. Menurut saya ini sikap yang tepat dan justeru sangat politis.

Ahok : Itukan persepsi mas Bambang, sah-sah saja berfikir politis seperti itu. Apalagi saya figur politik yang lagi disorot, wajar kalau segala gerak-gerik, sikap dan ucapan saya ditafsir secara politis oleh pihak lain, termasuk mas Bambang. Jujur saya katakan, apa yang mas Bambang pikirkan itu ada juga dibenak saya, tapi tidak signifikan mempengaruhi keputusan dan tindakan saya. Inikan soal cara pandang seseorang tentang apa itu politik. Batasan dan ruang lingkup politik yang dimaksud itu pada wilyah mana saja. Sebab kalau mau dikupas lebih luas, bahasa juga termasuk unsur politik. Kalau saya ngomong gini-gitu, itu juga bisa saja dipolitisir. Singkat kata politik itu sebuah sikap dan tindakan seseorang untuk menata diri sendiri dan mempengaruhi orang lain demi mencapai kebaikan bersama. Kalau yang curang-curang, akal-akalan, menurut saya bukan politik, itu kejahatan menggunakan sistem politik. Politik itu mulia kok, hanya saja sering diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Anggapan yang mengatakan politik jahat, kejam, curang dan lain sebagainya, itu karena realitasnya memang demikian, dan sulit dibantah. Tapi substansi politik tetap bukan itu. Makanya bagi saya berpolitik atau tidak berpolitik hampir tidak ada bedanya. Hanya kita harus tahu digaris yang mana batas wilayah garap kita. Prinsip kerjanya tetap sama yakni mengerjakan perkerjaan dengan sungguh-sungguh, profesional, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain serta mengutamakan kepentingan orang banyak atas diri kita sendiri. Dimanapun dan sebagai apapun, baik jadi anggota dewan, gubernur atau apapun jabatan kita, jika prinsip tersebut dipegang, semua terasa tidak berbeda, rumus bakunya tetap sama.

Saya : Hemmmmm, ternyata asyik juga ngobrol dengan pak Ahok. Rasanya saya dapat ilmu banyak terutama terkait pandangan politik dalam arti luas. Ada makna mendalam yang bisa saya serap dari penjabaran pak Ahok tadi. Tapi konteks politik yang saya maksudkan disini politik kepartaian dan sistem pemerintahan pak. Maksud saya, kita tidak mungkin mengabaikan gerak partai-partai politik yang ada, karna partai merupakan salah satu pilar utama demokrasi bangsa ini. Kita sama sama tahu para pemimpin selalu lahir dan diusung oleh partai politik meskipun tidak selalu harus anggota partai tersebut. Lantas bagaimana mungkin bisa menjadi pemimpin di negeri ini jika kita menjauh dari sistem yang ada ? bagaimana cara pak Ahok meng-administrasikan keadilan sosial seperti yang selama ini telah bapak lakukan ? rasanya sulit terjadi lagi. Itu sebabnya menurut saya, berpolitik dalam arti kepartaian, menjadi keharusan bagi orang yang punya kemampuan seperti pak Ahok, sekali lagi mesti tidak harus jadi anggota atau pengurus partai.

Ahok : Slow, slow mas, jangan terlalu emosional. Tenangkan diri, ambil nafas panjang dulu. Santai, Belanda masih jauh. Atau mungkin mau hidupin rokok lagi boleh, jangan sungkan lihat saya tidak merokok, hehehe. Oke, kita lanjut mas Bambang. Ada beberapa hal prinsip demokraksi yang sepertinya mesti kita diskusikan ulang. Secara teori demokrasi, saya sepakat dengan yang mas Bambang kemukakan. Tapi dalam praktik dan realitas kehidupan politik di negara kita, fungsi partai-partai masih jauh dari harapan ideal sebagai pilar demokrasi. Kita bisa lihat faktanya, kebijakan partai hampir selalu tidak sejalan dengan aspirasi konstituennya, iyakan ? Yang paling gampang ukurnya ya lihat aja rakyat maunya apa ? pasti pinginnya tidak ada korupsi, e.., e.., pejabatnya malah sibuk rebutan job korup. Padahal hampir semua mereka itu notabene kader-kader partai. Saya tidak mengatakan kita tidak butuh partai politik. Saya hanya ingin berdiri di titik yang tepat sehingga keberadaan hidup saya bisa benar-benar bermanfaat untuk orang banyak. Ngurusi orang banyak tidak berarti harus jadi pejabat, simpel kan ?

(Bersambung : Wawancara Imajiner Dengan Ahok (7))

Penulis : Bambang Budiyanto

Tinggalkan Komentar Anda