Wawancara Imajiner Dengan Ahok (7)

202
Wawancara Imajiner Dengan Ahok (7)
(kiri) Cak Bambang (kanan) Ahok

“Saya merasa kehilangan kata setelah mendengarkan paparan beliau. Jika saya coba kaitkan saat beliau masih jadi gubernur, terasa sekali ada satu nilai karakter yang kuat pada diri pria Belitung ini, yakni, satunya kata dan perbuatan”.

Saya : Oke pak saya bisa mengerti kemana arah pemikiran pak Ahok. Kalau saya boleh analogikan mungkin begini “jangan mencuci baju di air yang kotor” karena hanya akan sia-sia saja. Tapi menurut hemat saya, tidak mungkin kita mempertahankan baju kotor itu atau tidak pakai baju. Bukankah lebih bijak jika kita perbaiki bak penampungnya agar air menjadi bersih dan bisa kita pakai mencuci kembali. Artinya, untuk bisa memperbaiki kondisi sistem kepartaian di Indonesia justeru kita harus masuk ke dalam sistem itu.

Ahok : Analogi mas Bambang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya tepat. Hakekat demokrasi itu kan “Kehendak Rakyat” yang pada implementasinya direduksi oleh dan ke dalam institusi kepartaian. Partai itu hanya bak penampung dan penyalur, sumber airnya adalah rakyat. Yang perlu diperbaiki bukan bak penampunya, tapi sumber airnya, kekeruhan itu mengalir dari sana. Rakyat harus diberi edukasi, direvolusi mentalnya sehingga bisa menentukan pilihan yang tepat. Kebenaran mesti ditunjukkan dan dibuka selebar-lebarnya meskipun pahit, supaya rakyat bisa belajar melihat kesalahan. Pada ahirnya partai-partai itu akan mengikuti kehendak rakyat, sebab nyawa partai ada di rakyat. Partai yang suka “selingkuh” dan “main mata” cepat atau lambat akan ditinggalkan konstituennya. Kalau rakyat sudah pandai, maka partainya akan benar. Dan kalau partainya sudah benar, dimanapun kita berdiri pasti ketemu, asalkan kita juga benar. Saya tidak anti partai, karena partai pilar demokrasi yang sah menurut undang-undang kita. Tapi jika melaui partai itu saya hurus menjual harga diri bangsa misalnya, atau membodohi rakyat demi kekuasaan, maka lebih baik saya tidak berpartai, asal tetap bersama rakyat, selaku yang empunya republik ini.

Saya : Tapi bukankah pemikiran pak Ahok tersebut terlalu idealis dan menyulitkan perjuangan ?. Apakah tidak sebaiknya mengambil jalan yang sedikit lentur tapi tujuannya tercapai, ketimbang terlalu kaku, ahirnya gagal mencapai tujuan. Saya masih ingat pernah baca teori Strategi dan Taktik, yang menyebutkan, Strategi adalah langkah- langkah dan konsep jangka panjang untuk mencapai tujuan ahir. Sedangkan Taktik adalah langkah-langkah dan konsep jangka pendek untuk mendukung strategi. Dalam praktiknya, taktik dilakukan secara lentur menyesuaikan kondisi saat itu. Taktik bisa berubah setiap saat jika keadaan memaksa. Ini yang saya maksud jalan sedikit lentur.

Ahok : Saya mengerti maksud mas Bambang. Tapi batas kelenturan itu seperti apa ? Kalau menyuap untuk memuluskan atau memenangkan proyek, ya kita nggak bisa lentur dong. Jika uang APBN di bagi-bagi ke pejabat dan pengurus partai misalnya, tentu kita lawan itu. Atau kalau kekuasaan hanya melindungi koruptor-koruptor, jelas kita tidak boleh tolerir. Taktik itu harus tetap dalam koridor hukum dan aturan yang berlaku. Menjawab pertanyaan mas Bambang soal setrategi dan taktik tadi, bisa saya contohkan begini, tujuan ahir pembangunan nasional adalah rakyat adil dan makmur. Strategi jangka panjangnya menciptakan kesejahteraan rakyat. Sedangkan taktik jangka pendeknya membangun ekonomi, infrastruktur, penegakan hukum dan lain sebagainya. Merubah taktik tentu boleh saja tapi tetap tidak boleh menabrak aturan. Kalau ada oknum melanggar hukum, korupsi lalu kita biarkan saja, itu bukan kelenturan taktik namanya. Itu bersengkongkol melakukan kejahatan. Makanya lentur yang dimaksudkan mas Bambang batasannya di mana ? Sebab kalau mau jujur, mental korup pejabat kita sudah sangat kronis di semua lini dan tingkatan birokrasi. Kalau mau merubah mental mereka, kita harus keras, apapun resikonya.

Saya : Iya iya iya, saya paham sekarang pak. Kalau begitu mungkin mendirikan sejenis NGO termasuk salah satu solusi ya pak ?. Maksud saya NGO ini fokus pada gerakan penyadaran dan meng-edukasi masyarakat tentang clean goverment dan good governance sekaligus memberikan pendidikan politik. Sehingga rakyat menjadi cerdas memilih dan tidak bisa lagi dibohongi hanya dengan janji dan iming-iming sesaat. Jika gerakan ini dilakukan dengan sangat massif, saya yakin pada ahirnya partai-partai yang tidak jujur akan ditinggalkan pendukungnya.

Ahok : Iya NGO bisa saja dijadikan salah satu alternatif. Dengan NGO kita bisa melakukan gerakan perlawanan. Tapi bukan perlawanan fisik, sebab kalau pakai fisik itu hanya akan mengintrodusir kerusuhan dan memecah belah bangsa, terus apa bedanya dengan mereka ?. Jadi yang kita garap mentalnya. Makanya program revolusi mental yang di canangkan pemerintahan Jokowi, sudah tepat menurut saya. Tapi ingat, NGO ini imagenya sudah agak rusak di masyarakat. Karena (meskipun tidak semua) mereka banyak yang berkarakter oportunis, main dua kaki. Artinya, kalau kita mau berjuang lewat NGO harus sungguh sungguh dan siap berhadapan dengan NGO oportunis buatan mereka. Tapi begini mas Bambang, soal perahu apa yang akan kita gunakan untuk perjuang, itu tidak terlalu urgen, makanya saya belum memikirkannya. Yang terpenting kita jangan sampai kehilangan data dan informasi politik nasional dan global, sebab data inilah nantinya yang akan kita gunakan menyusun strategi dan taktik. Kita akan lewat jalur apapun akan sangat ditentukan oleh data dan informasi tersebut.

(Bersambung : Wawancara Imajiner Dengan Ahok (8))

Penulis : Bambang Budiyanto

Tinggalkan Komentar Anda