Sebatin.com, Kota Metro – Pemerintah Kota (Pemkot) Metro mencatat skor tertinggi di Provinsi Lampung dalam rilis Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) yang dirilis oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2024/2025. Kota ini meraih nilai 4,19, melampaui Kota Bandar Lampung yang mencatat 4,14 dan berada jauh di atas rata-rata nasional sebesar 3,50.
Capaian tersebut menempatkan Kota Metro sebagai tolok ukur pembangunan daerah di Lampung.
Keunggulan Kota Metro tampak pada sejumlah pilar utama. Pada Pilar Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Metro meraih skor sempurna 5,00. Nilai ini mencerminkan transformasi kota menuju pusat digital dengan dukungan infrastruktur dan literasi digital masyarakat yang kuat.
Skor sempurna juga diraih pada Pilar Pasar Produk (5,00), yang menunjukkan efisiensi pasar serta aksesibilitas barang dan jasa. Sementara itu, Pilar Dinamika Bisnis mencapai 4,86, menggambarkan iklim kewirausahaan dan kemudahan berusaha yang dinilai sangat kompetitif.

Meski demikian, Pemkot Metro mencatat sejumlah pekerjaan rumah. Pada Pilar Infrastruktur, Metro memperoleh skor 3,36, di bawah rata-rata Provinsi Lampung (3,51) dan Kabupaten Lampung Selatan (3,71). Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas jalan, drainase, air bersih, dan fasilitas publik.
Pilar Kapabilitas Inovasi juga menjadi perhatian dengan skor 3,67. Pemerintah menilai kemampuan riset dan pengembangan perlu diperkuat agar Metro tidak hanya unggul sebagai kota perdagangan, tetapi juga sebagai kota pencipta inovasi.
Selain itu, pada Pilar Pasar Tenaga Kerja, Metro mencatat skor 3,52, masih di bawah Bandar Lampung yang mencapai 3,97. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan kesesuaian antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Metro, Yeri Ekhwan, mengatakan arah kebijakan pembangunan ke depan akan difokuskan pada tiga strategi utama. Pertama, revitalisasi infrastruktur perkotaan melalui audit menyeluruh dan peningkatan kualitas layanan dasar.
Kedua, transformasi dari kota perdagangan menuju kota inovasi dengan pengembangan science and techno park, co-working space, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi.
“Metro tidak hanya menjadi pusat distribusi, tetapi juga pusat produksi inovasi daerah,” kata Yeri, dalam keterangan resminya kepada media, Selasa (3/3/26).
Ketiga, optimalisasi tenaga kerja terampil melalui program link and match antara SMK, perguruan tinggi, dan pelaku usaha guna menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, juga menegaskan capaian IDSD 2025 bukan menjadi akhir dari upaya pembangunan.
“Capaian ini bukan garis akhir, melainkan pijakan awal untuk lompatan pembangunan yang lebih terarah, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Bambang. (Ad)






