Pemprov Dorong Bandara Tetap Internasional, Rute Lampung–Malaysia di Buka

3
Pemprov Dorong Bandara Tetap Internasional, Rute Lampung–Malaysia di Buka
Bandara Radin Inten II. Foto : dok

Sebatin.com, Bandar Lampung – Maskapai TransNusa resmi membuka rute internasional Lampung–Kuala Lumpur mulai 12 Februari 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga status Bandara Radin Inten II sebagai bandara internasional sekaligus memperluas akses mobilitas masyarakat.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo mengatakan, pembukaan rute tersebut menjadi strategi menghadirkan transportasi udara yang lebih efisien tanpa harus melalui kota lain.

“Kalau bandara internasional tidak digunakan, risikonya bisa turun lagi. Karena itu penerbangan ini harus dimanfaatkan masyarakat,” kata Bambang, Senin (8/2/26).

TransNusa akan melayani penerbangan reguler rute Lampung–Kuala Lumpur setiap Senin dan Kamis, serta tetap mengoperasikan rute domestik Lampung–Jakarta. Dari Kuala Lumpur, penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai negara, termasuk ke Jeddah.

Menurut Bambang, pembukaan rute ini berdampak langsung bagi masyarakat, terutama jamaah umrah asal Lampung yang selama ini harus menempuh perjalanan berlapis melalui kota lain. Tercatat sekitar 24 ribu perjalanan umrah setiap tahun berasal dari Lampung.

“Sekarang jalurnya lebih singkat. Ini menghemat waktu, tenaga, dan biaya masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung juga menyiapkan langkah lanjutan untuk menjaga keberlanjutan rute tersebut, termasuk misi ke Malaysia guna mempromosikan pariwisata, menjajaki kerja sama perdagangan, serta memperkuat layanan bagi pekerja migran.

Bambang menyebut banyak pekerja migran asal Lampung di Malaysia menginginkan penerbangan langsung tanpa harus transit di Jakarta.

“Ini soal kemudahan dan martabat warga,” kata dia.

Pemprov juga akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia serta pelaku usaha dan asosiasi perjalanan untuk memperkuat ekosistem penerbangan internasional tersebut.

Sejumlah asosiasi seperti ASITA, ASTINDO, dan PPUI menyatakan minat untuk terlibat dalam pengembangan paket wisata, umrah, dan kerja sama bisnis lintas negara.

Bambang menegaskan, keberlanjutan rute sangat bergantung pada tingkat keterisian penumpang.

“Kalau penerbangan ini diisi dan dimanfaatkan, maka Bandara Radin Inten II akan tetap menjadi bandara internasional yang hidup,” ujarnya. (Sgn)

Tinggalkan Komentar Anda