
Sebatin.com, Pringsewu – Universitas Lampung (Unila) melalui tim dosen pengabdi Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Pertanian (FP), dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) melaksanakan sosialisasi dan penyuluhan pemanfaatan daun pandan wangi (Pandanus Amaryllifolius Roxb), sebagai produk teh herbal yang kaya antioksidan dan bermanfaat untuk penderita diabetes.
Kegiatan tersebut sebagai wujud implementasi tridarma perguruan tinggi melalui jalur Pengabdian Kepada Masyarakat (PMK) yang melibatkan mitra pengabdian, antaralain Kelompok Tani (Poktan) Jaya Lestari dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Dusun Sinar Sari, Pekon Selapan, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, Sabtu (13/7/24).
Ketua Pengabdi dari Jurusan Farmasi FK Unila., apt. Zulpakor Oktoba, S.Si., M.Farm., mengatakan, daun pandan wangi memiliki kandungan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, di antaranya meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi stres, melindungi tubuh dari penyakit kronis, meredakan peradangan, dan melindungi dari kerusakan oksidatif yang menyebabkan penuaan dini.
Inovasi pembuatan teh herbal dengan memanfaatkan daun pandan wangi dicampur dengan gula alami dari daun stevia (Stevia rebaudiana) yang aman untuk penderita diabetes, serta daun rosemary (Salvia rosmarinus).
“Selama ini, daun pandan wangi hanya dikenal sebagai penambah cita rasa makanan dan belum optimal dalam pemanfaatannya, hanya sebatas digunakan sebagai pewarna kue dan pengaroma minuman,” tuturnya.
Padahal, daun pandan wangi diketahui mengandung senyawa fenolik sebagai antioksidan yang dapat menghambat aktivitas radikal bebas pada tubuh manusia dan dimanfaatkan sebagai minuman untuk meningkatkan imunitas tubuh.
Selain memberi edukasi terkait pemanfaatan daun pandan wangi sebagai produk teh herbal Parovia, tim PKM juga mempraktikkan simulasi proses pengolahan simplisia daun pandan wangi kering.
Kedatangan tim PKM Unila sangat dinanti dan disambut antusias oleh kelompok tani, terutama ibu-ibu KWT. Melalui PKM dengan metode penyuluhan atau edukasi, masyarakat mendapat wawasan pengetahuan baru terkait potensi tanaman di lingkungan sekitar.
Tak hanya itu, keterampilan baru dalam pengelolaan dan pengolahan produk, serta peluangnya untuk dimanfaatkan juga diperoleh, yang semuanya dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi desa maupun keluarga kelompok tani. (Sgn)








