Hakikat Kebahagiaan

492
Hakikat Kebahagiaan
(Ilustrasi)

Sebatin.com – Fitrahnya, setiap manusia ingin selalu merasakan kebahagiaan. Faktanya, tak sedikit yang masih keliru akan definisi bahagia itu sendiri. Dan akhirnya, mereka tersesat dan tak menemukan jalan keluar di perjalanan panjang yang mereka ciptakan sendiri.

Kebahagiaan, sebuah kata yang dengan membaca atau bahkan menyebutnya saja membuat hati menjadi tentram, tenang. Sebuah kata yang sejak dulu hingga kini menjadi tujuan manusia, dan bahkan ada yang nyaris menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

DEFINISI KEBAHAGIAAN

Hakikatnya, kebahagiaan itu ada dua jenis. Satu, kebahagiaan yang semu. Bisa dikatakan kebahagiaan yang sesaat atau kesenangan yang sifatnya sementara. Umumnya, kebahagiaan ini adalah sebuah rekaan. Sebagai contoh, seperti kekayaan, menginginkan pasangan lebih dari satu atau menginginkan pasangan yang sempurna, penggunaan obat-obatan terlarang, dan lain sebagainya. Dua, kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan jenis ini adalah kebahagiaan yang fitrah. Kebahagiaan ini adalah kebahagiaan yang datangnya secara alami, tanpa rekaan, dan sifatnya lama.

KELIRU BERASUMSI

Bila ada yang beranggapan bahwa kekayaan itu berbanding lurus dengan sebuah kebahagiaan, maka bagaimana dengan orang-orang barat, atau artis-artisnya, yang tidak sedikit mengakhiri hidup dengan racun-racun mematikan atau jalan-jalan lainnya yang menuju kepada kematian yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Ya, bunuh diri.

Bila ada yang beranggapan bahwa memiliki pasangan lebih dari satu dapat mendatangkan sebuah kebahagiaan, maka orang tersebut belum mengerti akan hakikat sebuah cinta dan kebahagiaan. Bukanlah suatu kebahagiaan atau cinta bila dua hal tersebut dirajut di atas penderitaan orang lain. Apabila memiliki pasangan yang rupawan dapat mendatangkan sebuah kebahagiaan, lantas bagaimana dengan para artis Hollywood yang bahkan ada lama pernikahannya hanya beberapa jam.

Bila menggunakan obat-obatan terlarang pun dapat mendatangkan kebahagiaan, maka itu adalah anggapan yang mutlak keliru. Itu bukan kebahagiaan. Namun, itu adalah sebuah pelariaan.

Kalaupun masih ada yang beranggapan itu semua adalah jalan menuju kebahagiaan maka mereka tak sepenuhnya salah. Tapi, kebahagiaan yang jenis pertama. Yakni, kebahagiaan yang direka-reka dan sifatnya sementara.

KITA YANG MEMILIH

Untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan, kita harus tahu hakikatnya dalam sudut pandang yang tidak salah. Tentunya, kebahagiaan yang kita butuhkan adalah kebahagian yang hakiki, yang sifatnya lama. Rasa bahagia yang terus dicari-cari, direka-reka sedemikian rupa hanya akan membuat hati menjadi luka. Kebalikan rasa dari bahagia. Intinya, hal tersebut adalah menipu diri sendiri. Menipu kalau kita bahagia. Cepat atau lambat, pastinya kita akan lelah kemudian menyerah.

Mengapa jauh-jauh mencari rasa bahagia tanpa arah yang jelas ke mana-mana. Mengapa harus bersusah-payah. Bahagia ada di depan mata. Bahagia ada di sekitar kita. Namun, pertama-tama kita harus memilih terlebih dahulu, kebahagiaan yang semu atau kebahagiaan yang sejati yang kita cari.

CARA MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI

Sebagai manusia yang beradab dan hidup di zaman modern, kita harus berkelakuan yang baik. Yakni yang setidaknya tidak menyebabkan orang lain merasa terugikan. Sebagai manusia yang beragama, kita sepatutnya menaati larangan-larangan dan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Sebab, tidak ada ajaran agama yang menyesatkan. Kecuali, ajaran agama tersebut telah disimpang-siurkan.

Dengan hidup normal, menjadi orang baik, maka hidup kita akan berjalan lurus seperti tak ada hambatan. Mengalir. Namun, kalau bisa jadilah orang yang bermanfaat. Selain menyenangkan hati orang-orang, bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Menjadi orang baik itu mudah, tapi untuk menjadi orang yang bermanfaat itu kita perlu berjuang dan berkorban. Fitrahnya, setelah berbuat baik maka akan ada sebuah perasaan yang menyusup ke relung-relung hati kita yang disebut-sebut orang dengan kata bahagia. Ya, inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Damai dan bahagia, dua kata yang mengikat satu sama lain. Di saat damai sudah memenuhi rongga-rongga hati, tentunya di sana ada kebahagian yang hakiki. Sesungguhnya, bahagia itu sederhana: cukup terima dengan apa adanya. Sebab, pada hakikatnya, bahagia itu ada di sekeliling kita, asal kita mau mensyukurinya.

Hadi Winata

Penulis: Hadi Winata (Al Hadeed)
Penulis muda asal Palembang.

Tinggalkan Komentar Anda