Wawancara Imajiner Dengan Ahok (5)

237
Wawancara Imajiner Dengan Ahok (5)
Bambang Budiyanto / Cak Bambang (kiri), Ahok (kanan).

Pak Ahok melempar senyum sebelum kemudian menjawab pertanyaan saya.

Ahok : iya, iya, iya, saya sudah menduga mas Bambang bakal menanyakan masalah ini. Sebenarnya saya belum ingin membahasnya, saya lebih suka jika pertanyaanya mengarah pada konstelasi politik secara umum. Tapi baiklah, akan saya jawab sejujurnya, semoga mas Bambang tidak kecewa. Jadi begini mas, kalau dibilang jera, tentu saya tidak akan pernah jera hanya karena dua tahun dipenjara. Saya menyadari ini resiko politik yang harus saya terima. Seperti kata orang, ada tiga prinsip resiko politik bagi politisi, yakni 3B : Buang, Bui atau Bunuh. Kalau kalah akan terbuang, atau mungkin di bui bahkan bisa dibunuh, tergantung situasi dan kondisi yang melatarbelakangi. Jadi kalau pertanyaanya jera atau tidak, maka saya pastikan jawabannya tidak.

Saya : Nah ini jawaban yang saya tunggu-tunggu. Saya jadi ikut semangat jika pak Ahok masih mau terjun di dunia politik. Dimanapun, tidak harus di Jakarta, yang penting masih Indonesia. Lanjutkan jangan takut pak, saya ada dibelakang bapak. Maksud saya ngumpet di balik punggung pak Ahok, hehehe.

Ahok : Tapi mas Bambang jangan salah paham. Yang saya maksudkan tidak pernah jera, bukan berarti saya pasti terjun ke politik lagi. Bisa saja saya kembali menggeluti usaha atau bekerja yang lain. Intinya begini mas, kalau saya harus berhenti dari politik, alasan utamanya bukan karena didemo atau di penjara. Demikian juga sebaliknya, jika terus berpolitik, bukan karena merasa tertantang atau ditantang. Pertimbangan utamanya adalah situasi politik nasional. Bagaimana negara ini diurus dengan serius atau cuma main-main di ranah program, tapi uangnya dipakai kendurian beberapa gelintir oknum. Jadi ya kita lihat aja nanti situasinya seperti apa.

Saya : Saya paham maksud pak Ahok. Artinya jika sudah ada orang-orang baik dan serius ngurusi negeri ini, pak Ahok tak akan lagi terjun di politik. Pertanyaanya, ada berapa persen orang dinegeri ini yang bisa dipercaya ngurus negara ? orang baik mungkin banyak pak, tapi untuk urusan negara dibutuhkan lebih dari sekedar baik. Selain harus jujur, kemampuan menejerial, kejelian menganalisa persoalan dan keberanian mengambil resiko, adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, dan saya melihat ini ada dalam diri pak Ahok. Makanya ketika saya mendengar pernyataan pak Ahok tidak ingin jadi apa-apa saat itu, sedikit kecewa, meskipun pada ahirnya saya paham situasinya. Tapi menurut saya sebaiknya pak Ahok tetap berada di barisan politisi nasional, sehingga bisa mewarnai dan ikut mengemudikan arah pembangunan bangsa. Sebab saya meyakini bahwa “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Negeri ini masih membutuhkan orang orang seperti pak Ahok. Begitulah kira-kira pendapat saya pak.

Ahok : Ya idealnya apa yang mas Bambang sampaikan itu betul. Tapi realitasnya kan tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor penghambat yang sulit diteorikan. Masyarakat kita yang majemuk ini terlalu rentan dipecah belah, apalagi jika isu SARA dimainkan, rasanya sulit dikendalikan. Makanya saya instrospeksi diri, jika kehadiran saya hanya akan dijadikan alat picu masuknya gerombolan pemecah belah bangsa tentu lebih baik saya tidak berpolitik lagi. Idealitas sebagus apapun jika mengorbankan rakyat, saya tidak mau. Terlalu mahal harga NKRI ini kalau hanya ditukar dengan jabatan politik.

Saya : Wah, saya jadi agak lemes jika cara pandang pak Ahok demikian. Artinya belum ada kepastian mau terjun ke politik lagi atau tidak. Saya pinginya pak Ahok obsesif, optimis meledak ledak dan meneguhkan niat untuk tetap berpolitik, karena ini bagian dari do’a. Bahwa kelak Tuhan men-taqdirkan lain, itu soal yang berbeda, dan kita tidak pernah akan bisa menolak. Tapi menyangkut urusan dunia, keberpihakan Tuhan itu mengikuti maunya hamba-Nya, seperti firrman-Nya “Tidak berubah nasib suatu kaum kecuali dirinya sendiri merubahnya”. Juga firman-Nya yang berbunyi “Mintalah kepada Ku, pasti akan Ku beri”. Jadi maaf mestinya pak Ahok tetap meneguhkan niat berpolitik dan tak pernah akan berhenti kecuali Tuhan menghendaki. Sebab jika sikap pak Ahok “ngambang” dalam tanda kutip, saya hawatir dukungan dan kepercayaan masyarakat yang sudah ada, justru luntur dimakan waktu.

Ahok : Saya hargai semangat itu. Hanya saja mas Bambang lupa bahwa pertanyaan dan harapan itu ditujukan kepada orang yang sedang dipenjara sampai dua tahun ke depan. Dari semula saya sudah katakan bahwa saya belum tertarik membahas masalah politik yang terkait langsung dengan diri saya, sebab masih terlalu premateur. Tapi berhubung mas Bambang menanyakan hal itu, ya saya harus jawab sesuai janji saya.

Saya : Baiklah pak Ahok, saya bisa memahami dan memakluminya. Saya tahu apapun hasil diskusi kita malam ini, seperti apapun semangat saya mendukung pak Ahok, tetap saja harus diendapkan sampai dua tahun yang akan datang. Tapi kenapa pak Ahok justeru mencabut banding yang semestinya diperjuangkan supaya hukumannya lebih ringan dan bisa segera bebas. Bukan ini pertanda pesimisme dan menurunnya greget politik pak Ahok ?

(bersambung : Wawacara Imajiner Dengan Ahok (6))

Penulis : Bambang Budiyanto

Tinggalkan Komentar Anda