Revolusi Cinta : Takut dan Berharap pada-Nya

46
Revolusi-Cinta-Takut-dan-Berharap-pada-Nya

Judul Buku : Revolusi Cinta
Penulis       : Diah Indria Dewi, S.Pd.
Penerbit     : Penebar Media Pustaka, Yogyakarta
ISBN          : 978-602-5414-44-2
Terbit         : 2018

Sebagai penulis buku ini, Diah Indria Dewi (DID) mengaku telah memendam rasa selama tiga tahun. Rasa itu merupakan segala sesuatu yang terjadi di masa lalunya dan masih terbayang hingga sekarang, tentang perjalanan hidup dan segenap impiannya.

Dari itu semua, kemudian ia tuangkan ke dalam bait-bait puisi dan terkumpul dalam sebuah buku berjudul “Revolusi Cinta”.

Alasan utama terbentuknya buku ini, tak lain adalah karena kasih sayang sejati dua makhluk hebat, yaitu orang tuanya yang penuh cinta. DID menganggap bahwa cinta yang diberikan oleh orang tuanya, adalah cinta universal, yang mendorongnya untuk membagi cinta tersebut kepada sesama. DID tak ingin menikmati cinta itu seorang diri.

Ada beberapa definisi tentang revolusi, tapi sesuai konteks puisi-puisi di dalam buku ini, saya memahami revolusi sebagai sebuah perubahan besar dan cukup mendasar yang terjadi pada diri DID. Sepertinya ada hal-hal yang menurutnya kurang baik di masa lalu, dan sekarang ia ingin membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Kita perhatikan penggalan bait berikut dalam puisi berjudul Hijrah :

Andai semua angan kan tergapai
Jika berdiri tak lagi goyah
Pasti pergilah segala resah
Pasti hilanglah segala gundah
Pasti berhentilah segala lelah

DID meyakini, bila dirinya tak lagi goyah oleh godaan maupun cobaan, pastilah kesedihan dan kesulitan akan berlalu pergi. Bait ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT, dalam surat Al-Insyirah yang mengatakan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Motivasi itu, Allah SWT tegaskan sampai 2 kali (ayat) dalam surat tersebut.

Kemudian ayat selanjutnya mendorong kita untuk melanjutkan tugas yang baru setelah tugas sebelumnya selesai. Dari segala yang kita kerjakan, Allah SWT mengingatkan bahwa hanyalah diri-Nya yang pantas diharap.

Dalam puisi yang lain, DID memunculkan lirik /kan kugugurkan gelisah itu sendiri/ yang menegaskan tekadnya yang kuat. Memang, perubahan apa pun bisa dilakukan oleh manusia bila berasal dari niat yang kuat dari dalam dirinya.

Sampai di sini saya memahami, bahwa hijrah yang dia lakukan adalah karena cinta yang paling sejati yang ia dapatkan dari Allah SWT melalui kedua orang tuanya. Cinta bisa kita artikan sebagai rasa sayang, suka, ingin, atau harap. Di lain kondisi, cinta juga bisa berarti sebuah kerisauan atau keresahan. Maka bagaimana cinta kita adalah bagaimana cara kita masing-masing dalam menggunakan atau menerapkan cinta itu dalam diri kita. Kita simak bait puisi berjudul Ibu berikut :

Kekuatan kalbuku ada padamu
Kelembutan sikapku ada padamu
Senyum sapaku ada padamu
Ketabahanku hanya ada padamu

Peran sang ibu sangat penting bagi DID. Segala yang dimilikinya, baik secara spiritual maupun material, bersumber dari ibunya. Ia juga mengakui, bahwa ayahnya adalah sosok yang bijaksana. Seperti dalam penggalan puisi berjudul Pria Itu Bapak Kami, berikut :

Pria itu dalam sorot mata tajam
Antar kami kenali dunia
Bekali kami kesantunan dalam kekuatan

Bapaknya, adalah orang yang memberikan kebebasan kepada anak-anaknya (DID dan saudara-saudaranya) dalam mengarungi samudra kehidupan, tapi tetap memberikan pengawasan agar anak-anaknya tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang baik. Kekuatan cinta ibu-bapaknya yang besar itu terus melekat hingga kini. Dan DID merasa sudah sepantasnya cinta itu dibagi-bagikan kepada keluarga kecilnya, kakak-adiknya, sahabat-sahabatnya, murid-muridnya, dll.

Cara DID membagi cinta itu, antara lain : dengan senantiasa menjaga amanat (tugas) yang ia emban sekarang, dengan senantiasa berterima kasih ketika yang lain membantunya, dengan membuang jauh-jauh rasa kecewa karena ia sadar bahwa Allah SWT lah tempat berharap, bukan manusia, juga dengan menyadari bahwa diri ini bukanlah apa-apa di hadapan-Nya, maka saling menghormati sesama adalah hal penting dalam hidupnya.

Selain cinta (mahabbah) itu, DID juga mencoba menyeimbangkan antara berharap (raja’) dan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT. Sebagai seorang hamba, DID mencoba melakukan itu. Raja’ dan khauf baginya adalah dua sayap sakti untuk menuju Ilahi.

Raja’ dan khauf
Dua gelombang harus seimbang
Arungi samudra kehidupan fana

Dengan Revolusi Cinta ini, DID mencoba untuk lebih besar lagi mencintai Allah SWT, semata mengharap rahmat-Nya dan takut akan murka-Nya.

Peresensi:
Asrul Sanie, penikmat puisi, tinggal di Temanggung, Jateng.

Tinggalkan Komentar Anda