Tembakau : Ritual dan Strata Sosial

588
Tembakau : Ritual dan Strata Sosial
Novel Genduk karya Sundari Mardjuki

Judul Buku : Genduk
Penulis : Sundari Mardjuki
Tebal : 232 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2016
ISBN : 978-602-03-3219-2

Sebatin.com – Novel Genduk karya Sundari Mardjuki menceritakan tentang kisah seorang gadis kecil dari lereng Gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah. Genduk dari kecil belum pernah tahu seperti apa wajah bapaknya—yang sering ia panggil Pa’e. Harapan terbesarnya adalah bertemu dengan Pa’e. Kegelisahan selalu menyelimuti hidupnya. Pa’e telah pergi sejak Genduk masih bayi merah.

Yung, begitu Genduk sering memanggil ibunya, adalah salah satu teman hidup Genduk setelah pohon jambu batu di depan rumahnya yang sering ia jadikan teman untuk menunggu bapaknya. Setiap hari Yung bekerja sebagai petani tembakau. Musim tembakau adalah musim labuh baginya dan para petani lainnya. Semua dipertaruhkan agar bisa mendapatkan hasil tembakau yang memuaskan ketika panen tiba. Sejak proses awal dimulai hingga panen, tanaman tembakau ini sudah menguji nyali mereka. Yung, sebagai petani kecil, harus menerima dengan lapang dada ketika kalah bersaing dengan petani lain yang memiliki hektaran lahan. Ia hanya berharap, “Semoga harga mbako tidak ambleg. Kalau panen bagus, bisa bayar utang, dan kelebihannya bisa kita gunakan untuk sedikit membenahi rumah ini.” (hal. 24)

Yung juga selalu mengajarkan kepada anaknya agar tidak bergantung kepada orang lain ketika Genduk memcoba menawarkan solusi mengatasi kesulitan ekonomi dengan meminta bantuan kepada Dulmukti alias Mbah Sidorejo—bapak Yung sendiri yang sukses sebagai petani tembakau—daripada harus berutang ke Bah Ong lagi. “Nduk, anakku, dalam hidup jangan sekali pun kamu menggantungkan diri pada orang lain. Kamu hanya boleh bergantung padaku. Dan aku akan berusaha sekuat tenaga agar kita bisa hidup.” (hal. 25)

Novel ini menarik sebab di dalamnya tidak hanya bernuansa drama keluarga, tetapi juga mengupas ritual tradisi, perbedaan keyakinan, dan perbedaan kelas sosial yang ada pada saat itu. Novel yang menggunakan setting waktu tahun ’70-an ini memperlihatkan masih adanya orang-orang abangan seperti Dulmukti, bapak Yung, yang belum mau melakukan sembahyang seperti Iskandar, suami Yung. Iskandar tidak menyerah, ia tetap ingin “menolong” dengan tetap membuatkan kartu anggota ormas Islam untuk mertuanya itu sehingga ketika banyak orang abangan yang diciduk karena dikira antek PKI, Dulmukti tetap aman.

Kajine Bawon selalu menjadi tempat curhat Genduk dan membuat Genduk yakin bahwa Pa’e masih hidup. “Simbahmu, si Dulmukti, yang sedulit pun tidak mengenal cara-cara yang dianut bapakmu, yo tiba-tiba meradang. Biasa mbakar menyan kok disuruh sembahyang,” Kajine kembali terkekeh. (hal. 31)

Perbedaan keyakinan tersebut mengakibatkan tak disetujuinya hubungan Yung dan Iskandar. Selain itu, perbedaan latar belakang strata sosial juga menjadi penyebab Dulmukti tak merestui hubungan mereka. Iskandar adalah orang yang tak jelas asal-usulnya, ia pendatang dan tak memilki apa-apa, hanya saja ia termasuk orang yang taat beragama. Sementara Dulmukti memilki rumah gedong, tanah yang luas, dan petani tembakau yang kaya. Srinthil, tembakau kualitas nomor satu, banyak dihasilkan dari ladangnya. Dulmuktilah satu-satunya petani yang tidak bergantung kepada Cina mana pun. Awalnya, Yung akan dijodohkan dengan anak petani tembakau dari Desa Lamuk, lereng Gunung Sumbing, yang terkenal akan tembakau ndaru rigen, srinthil paling bagus. Yung menolak, dan memilih Iskandar yang taat beragama dan baik pekertinya meski akhirnya diusir dari keluarga besar Dulmukti dan menetap di Desa Ringinsari, di rumah pinjaman dari Kaji Bawon.

Tiada hari tanpa mencari Pa’e. Genduk tak pernah lelah berusaha meski Yung selalu meyakinkan bahwa Pa’e telah tiada. Tak perlu lagi diharapkan kepulangannya. Pa’e telah mati, kata Yung. Genduk tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan berani. Selama dalam perjalanan hidupnya mencari Pa’e, ia bisa membantu para petani yang dicurangi tengkulak, rentenir, dan gaok. Genduk memilki akses masuk ke Bah Djan untuk menyelesaikan persoalan pelik para petani yang sempat membuat salah satu petani bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban dari tengkulak, rentenir, dan gaok tersebut. Desa Ringinsari semakin hidup ketika persoalan-persoalan itu teratasi.

Dalam novel ini juga bisa dilihat secara lengkap proses terkait pertanian tembakau dan segala persoalan yang dihadapi para petani. Novel Genduk ini membuka cakrawala pembaca yang belum mengetahui produk pertanian andalan Kota Temanggung yang mendunia.

Ritual seperti wiwitan, potong gombak, among tebal, menghentakkan kaki tiga kali ke bumi sambil komat-kamit merapal mantra, dan suguhan sesajen juga menandakan masih kentalnya tradisi kala itu—dan hingga kini. Terbukti, Yung dan para petani lainnya selalu melakukan ritual tersebut yang bertujuan meminta kepada Gusti Allah untuk keselamatan dan keberhasilan agar hasil panen tembakau melimpah.

Meski hanya sekelumit pemantik, novel ini juga mampu mengajak pembaca untuk membuka kembali sejarah perjuangan yang pernah terjadi, di antaranya tentang Kiai Subkhi dan doanya yang maqbul untuk ribuan bambu runcing yang digunakan para pejuang kemerdekaan, Jendral Sudirman yang juga pernah singgah di Parakan, kehidupan pesantren dahulu, Pasar Legi, Pasar Kayu, Gestok serta bentrok PKI dengan santri yang kemudian kejadian-kejadian tersebut menjadikan titik terang bagi Genduk dalam perjalanannya mencari Pa’e.

Novel Genduk menarik untuk dijadikan referensi bacaan bagi siapa saja, terutama pelajar dan masyarakat di Temanggung, sekitar Sumbing-Sindoro, dan sekitarnya.

(Peresensi : Asrul Sanie, anggota Keluarga Studi Sastra Tiga Gunung Temanggung)

Tinggalkan Komentar Anda